KALIMANTAN UTARA — Rotterdam, yang dihuni sekitar 25.000 warga keturunan Cape Verde atau Kriolu, berubah menjadi lautan biru dan kuning saat tim berjuluk Blue Sharks mencetak sejarah sebagai negara terkecil yang lolos ke fase gugur Piala Dunia. Enam pemain di skuad Cape Verde lahir di kota ini, hampir 5.000 kilometer dari kampung halaman orang tua mereka. Lima di antaranya turun melawan Argentina dalam laga yang pahit manis.
Dari Dokter Pelabuhan ke Panggung Dunia
Salah satu dari mereka adalah Jeffry Fortes, bek kanan Den Bosch yang telah mengoleksi 26 caps untuk Cape Verde. Pria 37 tahun ini adalah anak seorang pekerja dermaga, sama seperti kebanyakan rekan senegaranya di Belanda. Karier internasionalnya berakhir mendadak pada 2023 setelah berselisih dengan federasi, namun ia tak kehilangan rasa bangga. "Sebagai pemain profesional, ini mengecewakan. Tapi sebagai warga Cape Verde, saya lebih bangga dari sebelumnya. Tidak ada yang tahu kami. Kini kami jadi sorotan," ujar Fortes, mengenakan kaus bergambar Amílcar Cabral, pahlawan kemerdekaan.
Rollercoaster Emosi di Club Annabel
Pertandingan dimulai dengan sambutan meriah. Waktu minum disambut tepuk tangan, pertanda ketegangan yang terasa. Ketika Lionel Messi membuka skor, kekecewaan kecil menyelimuti pesta besar Cape Verde. Namun euforia meledak saat Deroy Duarte, pemain kelahiran Rotterdam, menyamakan kedudukan. Disbelief—rasa tak percaya—menyambar udara, berbaur dengan minuman khas grogue dan pontche.
Argentina kembali unggul lewat Lisandro Martínez, lalu Sidny Lopes Cabral—tebak di mana ia lahir—membuat stadion mini itu berguncang. Tendangan melengkungnya dari sudut sempit menaklukkan Emiliano Martínez. Hening sejenak, lalu Fortes lenyap dalam lautan Blue Sharks yang melompat. "Ini seperti mimpi," kata Jerzy "Jerr" Rocha Livramento, rapper Broederliefde yang juga kakak dan manajer striker Dailon Livramento. "Tidak ada yang pernah mendekati momen ini, melihat kami di sini."
Ketika Diney Borges kembali memimpin Argentina, frustrasi mengambil alih. Namun saat peluit panjang berbunyi, tidak ada amarah. Penonton yang kelelahan bertepuk tangan di bawah pencakar langit Rotterdam. Bagi Fortes dan ribuan lainnya, kekalahan ini tak mengurangi kebanggaan.
Perjalanan Panjang dari "Pulau ke-10"
Tony Varela, mantan pemain Sparta dan kini pelatih di akademi PSV, mengingat masa-masa awal. "Untuk laga tandang di Afrika, kami kadang terbang ke Eropa lalu balik lagi demi menghemat tiket. Sebagian besar pemain bermain di liga lokal. Kini semuanya berubah. Kami punya koki profesional, analis video, segalanya."
Fortes dan Varela disebut legenda oleh Jerr. "Mereka membawa kami ke sini. Ada yang harus membeli tiket pesawat sendiri. Mereka melakukannya murni karena cinta pada Cabo," ujarnya. Cerita ini adalah bukti bahwa Piala Dunia bukan sekadar turnamen, melainkan panggung bagi diaspora untuk merayakan identitas yang lahir ribuan kilometer dari tanah leluhur.