Pencarian

Cynthia Erivo Bintangi Prima Facie, Film Pertamanya Usai Wicked

Jumat, 11 September 2026 • 21:05:31 WIB
Cynthia Erivo Bintangi Prima Facie, Film Pertamanya Usai Wicked
Cynthia Erivo menghadiri acara promosi film terbarunya, Prima Facie.

KALIMANTAN UTARA — Ini menjadi proyek pertama Erivo setelah pengalaman panjang syuting dan promosi dua film Wicked. Ia mengaku setuju mengambil peran yang menuntut lebih banyak dari sisi mental dan fisik, dengan materi yang sulit dilupakan begitu saja.

Sinopsis Prima Facie

Prima Facie diadaptasi Suzie Miller dari drama panggungnya yang mendapat pujian. Ceritanya berpusat pada Tessa (Erivo), barrister di London yang dikenal sebagai pembela tangguh bagi pria yang dituduh melakukan kekerasan seksual.

Pandangan Tessa soal keadilan dan hukum berantakan setelah ia sendiri mengalami kekerasan seksual oleh Julian (Daniel Ings), kolega sekaligus kekasihnya yang berasal dari latar belakang cukup privilese.

Versi panggungnya dibintangi Jodie Comer sebagai satu-satunya pemain dalam pertunjukan solo yang memenangi Tony dan Olivier di Broadway dan West End. Film ini disutradarai Susanna White (Woman Walks Ahead), menandai karya fiturnya dalam satu dekade terakhir.

White membuka dunia Tessa lebih luas, membawa penonton ke kampung halaman kelas pekerja dan hubungan rumitnya dengan sang ibu (Noma Dumezweni) serta adik lelaki (Toheeb Jimoh). Pendekatan ini juga membawa penonton lebih dalam ke kehidupan batin Tessa.

Dari Panggung ke Layar Lebar

White menyebut drama aslinya sebagai monolog yang harus diubah menjadi sesuatu yang benar-benar sinematik. Ia mengaku proses itu sekaligus menakutkan dan menggembirakan.

"The play is a monologue, and Suzie and I had to go on a big journey together where we turned it into something truly cinematic — it both frightened me and it really excited me," kata White.

Ia menyebut Black Swan sebagai salah satu referensi, terutama soal sudut pandang dan intensitas pengalaman. White mempertanyakan bagaimana monolog bisa digantikan dengan citraan, lensa, dan cara pengambilan gambar.

Meski menampilkan ansambel, Prima Facie tetap menjadi kendaraan Erivo. "I wanted to play a person who doesn't expect it, has everything together, and then things just fall apart," ujar Erivo.

"We rarely see these stories of women who work, high-flying in their business or in their world, doing everything right — and then it happens right in front of them. They don't realize it's right there."

Pendekatan Erivo dan Tim Produksi

Miller menyebut Tessa memulai cerita dengan arogansi tertentu dan keyakinan bahwa dirinya hebat di bidangnya. Ia ingin penonton melihat betul hal itu sebelum insiden mengubah segalanya.

Erivo, yang juga menjabat produser eksekutif, bekerja erat dengan koordinator intimasi Lizzy Talbot agar bisa mendekati materi secara tanpa hambatan namun tetap merasa aman. Ia menyebut dirinya mengandalkan koordinator intimasi dan terapis yang baik, serta memastikan bisa menghubungi mereka kapan pun dibutuhkan.

"It really was about where my limit was, how far it goes — and if we get lost, how to get back into the room," ujar Erivo.

Ia menjelaskan detail yang diperhatikan, mulai dari berapa banyak kulit yang terlihat saat ia berbaring di lantai, sudut pandang yang dipakai, hingga kapan adegan mulai terasa jelas. Talbot disebutnya sangat peka dalam mengatur momen-momen itu secara halus.

"There were moments where we would slip, where it would go too far for me," kata Erivo. "I would go too far and it would be hard to come back — there were moments of having little panic attacks, where I'd get way too emotional. But Lizzy was right there."

Perbedaan dengan Peran Elphaba

Bagi Erivo, Tessa menawarkan tantangan yang jauh berbeda dari Elphaba di Wicked, terutama dalam realisme drama dan trauma dari busur emosinya. Ia menyebut keduanya sebagai kutub yang berlawanan, dan justru itulah yang ia sukai.

"They're polar opposites, but I think that's kind of how I like it — I like being able to move from thing to thing, and I don't want them to be similar," ujarnya.

Ia ingin bisa berpindah dari satu proyek ke proyek lain sambil terus belajar hal baru. "For want of a better analogy, it was nice to come back to the ground," kata Erivo.

Film ini menampilkan respons trauma yang kompleks secara autentik. White memakai monolog batin Tessa dari naskah Miller, dengan pikiran-pikiran yang mengalir seperti narasi saat kejadian. Setelah kekerasan seksual itu, perangkat naratif tersebut berubah bentuk, kadang memudar dan kadang menguat ke permukaan cerita seiring Tessa memproses apa yang terjadi.

Miller bekerja sama dengan sutradara untuk menyempurnakan monolog batin tersebut.

Follow faktakaltara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: hollywoodreporter.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks