Pencarian

RI dan Korsel Finalisasi Pusat Pengendalian Karhutla di Sumatera Selatan, Menhut Sebut Asap Tak Mengenal Batas Negara

Sabtu, 08 Agustus 2026 • 13:30:31 WIB
RI dan Korsel Finalisasi Pusat Pengendalian Karhutla di Sumatera Selatan, Menhut Sebut Asap Tak Mengenal Batas Negara
Menteri Kehutanan meninjau finalisasi pusat pengendalian karhutla di Sumatera Selatan bersama delegasi Korea Selatan.

KALIMANTAN UTARA — Kerja sama pengendalian karhutla antara Indonesia dan Korea Selatan memasuki tahap konkret. Pusat manajemen kebakaran hutan yang berlokasi di Sumatera Selatan itu disiapkan sebagai respons atas meluasnya dampak asap yang tidak mengenal batas administratif, baik antarprovinsi maupun antarnegara.

“Banyak inisiatif yang akan kita kerja samakan, tapi salah satunya memang memfinalisasi Forest and Land Fire Management Center yang baru saja kita lihat ini. Mudah-mudahan nanti Bapak Park datang ke Indonesia untuk memperpanjang kerja sama, sekaligus meresmikan Forest and Land Fire Management Center yang ada di sini,” ujar Raja Juli Antoni, Sabtu (8/8/2026).

Ancaman Transboundary Haze Menjadi Dasar Perluasan Kerja Sama

Raja Juli menegaskan bahwa kerja sama dengan Korsel tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur fisik. Cakupannya akan diperluas ke aspek pencegahan, deteksi dini, hingga pemadaman, mengingat karhutla di satu wilayah bisa berdampak jauh ke luar daerah asal kebakaran.

Fenomena kabut asap lintas batas atau transboundary haze menjadi perhatian serius kedua negara. Titik api di OKI, misalnya, berpotensi menyebarkan asap hingga ke negara tetangga, sehingga penanganan karhutla tidak bisa lagi dilakukan secara parsial oleh satu negara.

“Karena asap hasil kebakaran hutan itu tidak mengerti wilayah administratif. Kebakarannya di OKI, tapi bisa dirasakan di daerah lain, bahkan sampai luar negeri. Asap itu bisa melampaui lintas batas negara,” kata Raja Juli.

Peran Pusat Pengendalian dan Target Operasional

Fasilitas di Daops Manggala Agni Sumatera XVII/OKI ini dirancang menjadi pusat kendali terpadu. Fungsinya mencakup pemantauan titik panas secara real-time, koordinasi regu pemadam, hingga pusat analisis data cuaca dan arah sebaran asap.

Keberadaan pusat manajemen ini menjadi penting karena musim kemarau kerap memicu lonjakan titik api di wilayah rawa gambut Sumatera Selatan. Kedalaman gambut yang ekstrem membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan teknologi yang tidak selalu tersedia di tingkat daerah.

Melalui skema kerja sama dengan Korsel, transfer teknologi pemadaman dan manajemen lahan gambut menjadi salah satu poin yang diharapkan mampu mempercepat respons di lapangan. Langkah ini sekaligus menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih siap menghadapi tekanan perubahan iklim yang memperpanjang musim kering.

Jadwal Peresmian dan Tindak Lanjut Bilateral

Peresmian pusat pengendalian itu direncanakan beriringan dengan perpanjangan nota kesepahaman kedua negara. Kunjungan Presiden Korsel Park ke Indonesia menjadi momen yang ditunggu untuk mengunci komitmen jangka panjang pengendalian karhutla.

Hingga saat ini, Kementerian Kehutanan belum merinci nilai investasi dan rincian teknis peralatan yang akan dipasang di pusat pengendalian tersebut. Namun, finalisasi pembangunan menandakan bahwa infrastruktur utama telah rampung dan siap menunjang operasional.

Kerja sama ini menjadi salah satu instrumen diplomasi lingkungan Indonesia di kawasan. Dengan kapasitas pengendalian yang lebih baik, risiko kebakaran yang memicu ketegangan diplomatik dengan negara tetangga akibat kabut asap diharapkan dapat ditekan secara signifikan.

Follow faktakaltara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks