Pencarian

Trail Run Kian Diminati di Kalimantan Utara, Dispora Kaltara Incar Bibit Atlet untuk PON

Minggu, 09 Agustus 2026 • 22:00:01 WIB
Trail Run Kian Diminati di Kalimantan Utara, Dispora Kaltara Incar Bibit Atlet untuk PON
Ratusan peserta mengikuti Fun Run Night Trail di Tarakan, Kalimantan Utara, yang menjadi ajang pemetaan potensi atlet lari lintas alam.

TARAKAN — Geliat olahraga trail run di Kalimantan Utara mulai mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Kepala Dispora Kaltara, Dr Bustan M.Si, menyebut tingginya partisipasi masyarakat dalam agenda Fun Run Night Trail beberapa waktu lalu menjadi indikator kuat bahwa cabang olahraga ini layak dikembangkan secara terstruktur.

Kegiatan yang diikuti sekitar 1.000 peserta itu tidak hanya menjadi ajang menjaga kebugaran, tetapi juga ruang untuk memetakan potensi atlet lari lintas alam di wilayah yang kaya akan medan perbukitan dan hutan tersebut.

Asosiasi Baru, Peluang Baru di PON

Bustan menjelaskan, Asosiasi Trail Indonesia (Alti) Kaltara baru terbentuk tahun lalu. Momentum ini dinilai tepat untuk mulai melakukan pembinaan sejak dini, mengingat trail run diprediksi akan segera dipertandingkan di PON.

"Olahraga Trail Run ini memang banyak digandrungi masyarakat beberapa tahun terakhir, kebetulan Asosiasi Trail Indonesia (Alti) Kaltara baru dibentuk tahun lalu. Besarnya jumlah peminat olahraga ini menjadi salah satu indikator olahraga ini akan dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON)," ujarnya, Sabtu (8/8).

Menurutnya, pemerintah perlu bergerak cepat untuk "mengeker" bibit-bibit muda yang memiliki kemampuan di bidang lari lintas alam. Jika tidak, potensi besar ini hanya akan menjadi kegiatan seremonial belaka tanpa menghasilkan atlet berprestasi.

Keselamatan di Medan Alam Jadi Prioritas

Di balik antusiasme tersebut, Bustan mengingatkan bahwa pengembangan trail run tidak boleh hanya berorientasi pada jumlah peserta. Karakteristik olahraga ini berbeda dengan lari di jalan raya karena menuntut kesiapan fisik dan mental menghadapi medan yang berubah-ubah.

Ia menyoroti aspek keselamatan, terutama untuk event yang berlangsung hingga malam hari. Minimnya pencahayaan di kawasan hutan menjadi tantangan tersendiri bagi para pelari.

"Kondisi alam saya kira cukup kompleks ketika kegiatan dilaksanakan pada malam hari. Minimnya pencahayaan hutan membuat peserta harus memiliki kesiapan fisik dan perlengkapan yang memadai. Memang olahraga memerlukan waktu cukup panjang sehingga lombanya cenderung berlangsung hingga malam. Setidaknya dalam setiap event di pulau Jawa memerlukan waktu 6-7 jam untuk peserta sampai ke finish," tuturnya.

Risiko Satwa Liar dan Standar Penyelenggaraan

Bustan juga menyoroti risiko lain yang kerap dihadapi pelari, yakni potensi gangguan dari satwa liar. Jalur yang melintasi hutan lindung memiliki karakter berbeda dengan jalur perkotaan, sehingga peserta harus memperhitungkan kondisi alam sekitar.

"Kegiatan malam melintasi alam hutan lindung berbeda dengan kita melaksanakan kegiatan melintasi hutan lindung siang. Banyak mungkin hewan yang akan dilewati," jelasnya.

Ia menegaskan, aspek keselamatan harus menjadi bagian dari evaluasi apabila pemerintah daerah nantinya mengambil peran lebih besar. Standar pelaksanaan kegiatan perlu disiapkan agar olahraga yang tumbuh dari komunitas ini bisa naik kelas menjadi agenda yang lebih terstruktur dan aman bagi semua peserta.

Follow faktakaltara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: radartarakan.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks