TANJUNG SELOR — Nilai impor Kalimantan Utara pada tiga bulan pertama 2026 menunjukkan tren kontraksi signifikan. Kepala BPS Kaltara Dr. Mustaqim dalam rilis resmi 5 Mei 2026 mengungkapkan, impor Januari–Maret tahun ini hanya US$91,33 juta, turun dari US$203,43 juta pada periode yang sama di 2025.
Penurunan terbesar terjadi pada kelompok barang hasil tambang yang nilai impornya jatuh dari US$1,2 juta menjadi hanya US$0,09 juta—kontraksi 92,66 persen. Sementara impor barang hasil industri tercatat US$85,3 juta, turun 57,84 persen dibanding tahun sebelumnya.
Impor Migas dan Nonmigas: Siapa Pemasok Utama?
Dari total impor periode tersebut, komoditas migas menyumbang US$5,95 juta. Tiga negara pemasok utama migas ke Kaltara adalah Tiongkok senilai US$5,54 juta, Malaysia US$0,38 juta, dan Singapura US$0,02 juta.
Adapun impor nonmigas mencapai US$85,39 juta, didominasi produk dari Tiongkok sebesar US$49,16 juta. Vietnam menyusul dengan US$12,51 juta, Singapura US$10,59 juta, dan negara lainnya US$9,06 juta. Namun angka ini anjlok 63,36 persen dibanding Januari–Maret 2025.
Kinerja Maret: Impor Terjun Bebas 70 Persen
Jika dilihat per bulan, impor Maret 2026 hanya US$24,56 juta—turun drastis 70,43 persen dibanding Maret 2025. Mustaqim menjelaskan, penyebabnya sama: penurunan impor hasil industri dan hasil tambang.
Bahkan secara bulanan, impor nonmigas Maret 2026 sebesar US$19,21 juta ambles 63,12 persen dibanding Februari 2026 yang tercatat US$52,08 juta.
Neraca Dagang Kaltara: Surplus Melonjak 62 Persen
Meski impor turun, neraca perdagangan Kalimantan Utara justru mencatat surplus US$218,15 juta pada Januari–Maret 2026. Angka ini naik 62 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Maret 2026 saja, surplus neraca perdagangan mencapai US$104,67 juta—melonjak 93,33 persen dibanding Maret 2025. Artinya, ekspor Kaltara masih jauh lebih besar ketimbang impor, memperkuat posisi daerah sebagai wilayah dengan surplus perdagangan tinggi di Kalimantan.