KALIMANTAN UTARA — Ionna, jaringan pengisian daya cepat milik delapan pabrikan otomotif dunia, baru mengoperasikan sekitar 185 stasiun di Amerika Serikat hingga kini. CEO Seth Cutler menyebut pertumbuhan industri charger EV terhambat birokrasi perizinan, kesiapan utilitas listrik, dan minimnya tenaga terlatih. Targetnya, 30.000 charger dan 2.000 stasiun tersebar di Amerika Utara pada 2030.
Jaringan pengisian daya listrik Ionna dibentuk sebagai perusahaan patungan tujuh pabrikan otomotif global—BMW, Mercedes-Benz, General Motors, Honda, Hyundai, Kia, dan Stellantis. Toyota bergabung setahun kemudian, melengkapi total menjadi delapan pemegang saham. Seth Cutler diangkat sebagai CEO dengan misi membangun jaringan fast charging yang mampu menyaingi Tesla Supercharger di Amerika Utara.
Dalam wawancara dengan The Drive, Cutler membeberkan kondisi riil industri charger EV Amerika Serikat yang jauh dari kata mulus. Ia menyebut tiga akar masalah yang membuat infrastruktur pengisian daya di sana terkesan amburadul.
Birokrasi Perizinan dan Utilitas Listrik Jadi Penghambat Utama
Cutler menjelaskan, membangun stasiun pengisian daya jauh lebih rumit dari yang dibayangkan konsumen. Prosesnya melibatkan desain, perizinan tata ruang, persetujuan zonasi, hingga konstruksi fisik. Setelah izin keluar, pembangunan bisa selesai dalam sepekan dan siap dialiri listrik dalam enam minggu.
"Kami sudah mengerjakan beberapa lokasi dalam empat minggu. Utilitas listrik belum siap menghadapi kecepatan seperti itu, mereka tidak terbiasa dengan pergerakan secepat ini," ujar Cutler.
Masalah bertambah karena sebagian besar stasiun tidak berpenghuni. Operator harus membangun sistem pemantauan jarak jauh berbasis telemetri dan data untuk men