Direktorat Samapta Polda Kalimantan Utara bersama BPBD, KPH, TNI, dan Manggala Agni memadamkan kebakaran hutan dan lahan seluas total 19 hektare di dua desa di Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan. Kebakaran di Desa Gunung Sari dan Desa Apung itu ditangani sejak Minggu (13/9) siang hingga malam, dengan personel harus berjalan kaki 300 meter menembus lahan gambut karena tidak ada akses langsung ke titik api.
TANJUNG SELOR — Ditsamapta Polda Kaltara mengerahkan 30 personelnya untuk menangani karhutla di dua lokasi berbeda di Kecamatan Tanjung Selor. Personel dipimpin IPDA Haris Rohadi dan bergerak mulai Minggu (13/9) siang hingga malam.
Lokasi pertama di Desa Gunung Sari dengan luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 13 hektare. Lokasi kedua di Desa Apung sekitar 6 hektare. Total lahan yang ditangani mencapai kurang lebih 19 hektare.
Penanganan tidak hanya melibatkan personel kepolisian. Sebanyak 10 personel BPBD, 10 personel KPH, 15 personel TNI, dan 10 personel Manggala Agni dikerahkan ke lokasi.
Lahan Gambut dan Akses Terputus Jadi Kendala Utama
Direktur Samapta Polda Kaltara Kombes Pol Andreas Deddy Wijaya menyebut kondisi medan berupa lahan gambut, rawa, semak, dan pepohonan tinggi menjadi tantangan tersendiri. Tidak ada akses langsung menuju titik api.
Personel harus bergeser melalui jalan utama, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 300 meter sambil membawa peralatan pemadaman.
Untuk sumber air, personel memanfaatkan area rawa dengan floating pump. Air dialirkan melalui selang pemadam menuju titik api.
"Di lokasi pertama, Desa Gunung Sari, kebakaran terjadi sekitar pukul 14.00 WITA. Lahan tersebut sebelumnya telah mendapatkan penanganan, namun kembali memunculkan titik api," kata Andreas.
Ia menambahkan personel melakukan pengecekan, pemadaman, pembasahan, dan pendinginan di lokasi tersebut.
Titik Api di Desa Apung Belum Terjangkau Personel
Sekitar pukul 19.00 WITA, personel bergerak ke lokasi kedua di Desa Apung. Api masih terlihat di beberapa bagian lahan.
Kondisi medan dan tidak tersedianya akses masuk menuju titik api utama membuat personel belum bisa menjangkau sumber api secara langsung. Personel bersama instansi terkait memadamkan dan mendinginkan area pinggir jalan yang merupakan bagian dari lahan bekas terbakar.
"Personel tetap siaga dan melakukan pemantauan secara intensif di lokasi dengan tetap menyiagakan sarana dan prasarana pemadaman agar setiap perkembangan situasi, khususnya apabila api membesar atau meluas, dapat segera ditindaklanjuti," ujar Andreas.
Penyisiran dan Pendinginan Cegah Bara Api Kembali Menyala
Setelah penanganan, personel melaksanakan penyisiran dan pemantauan di sekitar lokasi. Langkah ini untuk memastikan tidak ada titik api aktif yang berpotensi menimbulkan kebakaran kembali.
Operasi pemadaman didukung kendaraan karhutla, Armoured Water Cannon (AWC), mobil operasional, dan berbagai peralatan pemadaman lainnya.
Andreas menyebut respons cepat Ditsamapta Polda Kaltara sebagai bentuk kesiapsiagaan dan komitmen mencegah serta menanggulangi karhutla. Sinergi antara Polri, TNI, BPBD, KPH, dan Manggala Agni disebutnya memperkuat perlindungan masyarakat dari dampak karhutla di Kaltara.