TANJUNG SELOR — Luas lahan yang terbakar di Kalimantan Utara (Kaltara) tahun ini tercatat 2.639,99 hektare. Angka itu merupakan akumulasi dari beberapa kategori kawasan, dengan Area Penggunaan Lain (APL) menjadi penyumbang terbesar mencapai 1.900 hektare.
Hutan Produksi menyusul dengan luasan 737,49 hektare, sedangkan Hutan Lindung terdampak paling kecil, yakni 2,50 hektare.
Bulungan Menyumbang 98 Persen Luas Kebakaran
Kabupaten Bulungan mendominasi catatan karhutla di provinsi paling utara Pulau Kalimantan ini. Dari total area terbakar, 2.597,38 hektare berada di wilayah tersebut.
Kota Tarakan berada di posisi kedua dengan 31,86 hektare. Adapun Kabupaten Tana Tidung dan Malinau masing-masing mencatatkan luasan 6,25 hektare dan 4,50 hektare.
Gubernur Turun ke Titik Api di Selimau
Gubernur Kalimantan Utara, Zainal A. Paliwang, tak hanya memantau dari kantor. Jumat (4/9/2026), ia memimpin langsung pemadaman di kawasan lahan Selimau, Kecamatan Tanjung Selor.
Dengan perlengkapan lapangan lengkap—masker, sepatu keselamatan, hingga nozzle selang pemadam—Zainal ikut mengarahkan semprotan air ke titik api dan lahan yang masih menyisakan asap pekat.
Instruksi Gubernur: Keselamatan Petugas Prioritas Utama
Di tengah kepungan asap, Zainal mengingatkan seluruh personel di lapangan agar tidak memaksakan diri. Kondisi asap pekat dan medan berat menuntut kewaspadaan ekstra.
"Saya minta semua petugas dan relawan tetap mengutamakan keselamatan dan menjaga kesehatan. Jangan lupa, ada keluarga yang menunggu kita di rumah," kata Zainal.
Ia juga menekankan bahwa karhutla hanya bisa dituntaskan lewat kolaborasi. "Karhutla adalah tanggung jawab kita bersama. Terima kasih kepada semua petugas, relawan dan masyarakat yang terus bekerja memadamkan api," ujarnya.
Teknik Pemadaman Disesuaikan Jenis Lahan
Sebelum aksi pemadaman, tim menggelar briefing untuk membagi tugas, memeriksa arah angin, mencari sumber air, dan menentukan titik kumpul aman.
Metode pemadaman pun dibedakan berdasarkan karakteristik lahan. Di lahan mineral, petugas menyiram langsung titik api dengan memperhatikan arah angin dan pergerakan api.
Untuk lahan gambut, digunakan nozzle khusus yang ditancapkan ke dalam tanah. Tujuannya agar air meresap hingga ke lapisan bawah, mengingat api di gambut bisa tetap menyala meski permukaan tampak padam.
Setiap titik disiram minimal satu menit sampai tidak ada asap yang keluar. Proses pendinginan atau cooling down kemudian dilakukan untuk memastikan tidak tersisa bara yang bisa memicu kebakaran susulan.
Ratusan Personel Disiagakan
Pemprov Kaltara juga menyiagakan ratusan personel Brigdal Karhutla di sejumlah dinas dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Langkah ini untuk mempercepat respons saat muncul titik api baru.
Masyarakat kembali diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar. Imbauan ini disampaikan untuk mencegah meluasnya kebakaran sekaligus menjaga keselamatan dan kelestarian lingkungan. (Esti)