KALIMANTAN UTARA — Hyundai Motor menandatangani perjanjian dengan Sunjin Group, Hynet, dan Asosiasi Lingkungan Otomotif Korea untuk memperluas pasokan kendaraan hidrogen dan infrastruktur pengisian bahan bakar. Langkah ini menegaskan bahwa Korea Selatan masih melihat sel bahan bakar hidrogen sebagai solusi utama untuk transportasi jarak jauh dan angkutan berat, bukan sekadar mobil listrik berbaterai.
Perjanjian yang diumumkan pada 16 September itu melibatkan Sunjin Group, operator sekitar 1.700 bus, yang berencana mengoperasikan 480 bus hidrogen pada 2032. Sunjin juga akan mengubah depo CNG-nya di Gimpo dan Paju menjadi stasiun hidrogen, menjadikannya salah satu operator bus terbesar yang beralih ke sel bahan bakar di Korea.
Hyundai Motor tidak bergerak sendirian. Perusahaan itu menggandeng Hynet dan Asosiasi Lingkungan Otomotif Korea untuk memastikan pasokan kendaraan hidrogen berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur pengisian. Kolaborasi ini menyasar segmen komersial, bukan kendaraan penumpang pribadi.
Mengapa Hidrogen Masih Diminati untuk Angkutan Berat
Kendaraan komersial bertenaga sel bahan bakar hidrogen kembali menarik minat di Korea Selatan dan sejumlah negara lain. Minat itu terutama datang dari sektor transportasi jarak jauh dan angkutan berat, segmen yang sulit dipenuhi kendaraan listrik berbaterai karena keterbatasan waktu pengisian dan bobot baterai.
Hyundai Motor, Toyota, dan Daimler Trucks tercatat sebagai produsen yang paling agresif mengembangkan bus dan truk hidrogen. Ketiganya bersaing di pasar yang volumenya memang kecil, tetapi punya nilai strategis besar untuk dekarbonisasi armada logistik.
Jejak Xcient di Eropa: 21,8 Juta Kilometer
Bukti operasional datang dari Eropa. Pada Juli 2025, 175 truk hidrogen Xcient milik Hyundai yang beroperasi di lima negara Eropa menempuh jarak total 21,8 juta kilometer. Angka itu menunjukkan bahwa teknologi sel bahan bakar sudah melewati tahap uji coba dan masuk pemakaian komersial harian.
Xcient menjadi tolok ukur penting bagi Hyundai sebelum memperluas armada bus hidrogen di Korea. Jarak tempuh sebesar itu juga menjadi data nyata soal durabilitas fuel cell di kondisi operasional berat, bukan hasil uji laboratorium.
Posisi Korea Selatan Dibanding Mobil Listrik
Korea Selatan memang punya ekosistem kendaraan listrik yang matang, tetapi perhatian pada hidrogen tetap besar. Pemerintah dan pelaku industri melihat hidrogen sebagai pelengkap, bukan pengganti, terutama untuk armada bus dan truk yang beroperasi di rute tetap.
Strategi Sunjin mengubah depo CNG menjadi stasiun hidrogen menunjukkan pendekatan bertahap. Infrastruktur yang sudah ada dimanfaatkan ulang, sehingga biaya transisi tidak sepenuhnya ditanggung operator. Model ini bisa jadi contoh bagi negara lain yang ingin mengembangkan hidrogen tanpa membangun semuanya dari nol.
Yang Perlu Diperhatikan
- Target 480 bus hidrogen baru tercapai pada 2032, jadi dampaknya ke pasar belum terasa dalam waktu dekat.
- Ekonomi stasiun hidrogen masih bergantung pada subsidi dan skala armada yang cukup besar.
- Harga hidrogen hijau di Korea Selatan belum sepenuhnya kompetitif dibanding diesel, sehingga biaya operasional jangka panjang masih jadi pertanyaan.
- Ketersediaan model bus hidrogen di pasar global masih terbatas pada segmen komersial, belum menyentuh kendaraan pribadi secara luas.
Bagi Indonesia, langkah Korea Selatan ini relevan sebagai pembanding. Pengembangan hidrogen di dalam negeri masih di tahap awal, dan fokus pada angkutan berat bisa jadi jalur masuk yang lebih realistis dibanding memulai dari kendaraan penumpang.