KALIMANTAN UTARA — Jakarta — Kinerja PTBA sepanjang enam bulan pertama 2026 berbalik arah dibanding awal tahun. Produksi batu bara tercatat 19,45 juta ton, sementara penjualan mencapai 21,10 juta ton. Pemulihan operasional pada kuartal II menjadi kunci, disertai strategi penjualan yang adaptif memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara global.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menyebut kondisi operasional yang lebih kondusif membuka ruang bagi perseroan mendorong kinerja produksi sekaligus memperkuat penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan.
"Momentum penguatan harga batubara global kami manfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif, disertai program efisiensi untuk menjaga disiplin biaya," ujar Bambang dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Ekspor ke Vietnam hingga Thailand Jadi Penopang
Penjualan ekspor PTBA mencapai 10,33 juta ton, naik sekitar 5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand menjadi negara tujuan utama. Sementara penjualan domestik tercatat 10,77 juta ton, atau sekitar 51 persen dari total penjualan perseroan.
Kombinasi pasar ekspor dan domestik yang berimbang memberi bantalan bagi PTBA ketika harga global berfluktuasi. Porsi domestik yang dominan juga menjaga stabilitas pendapatan di tengah ketidakpastian permintaan luar negeri.
Proyek Tanjung Enim–Kramasan Capai 93 Persen
Untuk memperkuat bisnis inti, PTBA menggenjot pembangunan infrastruktur pertambangan dan logistik. Proyek Tanjung Enim–Kramasan menjadi salah satu proyek strategis untuk meningkatkan kapasitas angkutan serta memperkuat sistem distribusi batu bara. Progresnya telah mencapai sekitar 93 persen.
Perseroan juga telah memperoleh komitmen pendanaan melalui Term Sheet dengan bank-bank Himbara untuk Senior Term Loan Facility hingga Rp3,56 triliun. Dana ini akan menopang percepatan proyek strategis, termasuk pembangunan Coal Handling Facility (CHF) dan Train Loading Station (TLS) 6–7 pada jalur angkutan batu bara relasi Tanjung Enim–Kramasan.
"Penguatan infrastruktur merupakan bagian dari strategi kami untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis," lanjut Bambang. Ia menyebut perseroan terus mempercepat pengembangan proyek agar sistem logistik batu bara semakin terintegrasi dan mampu mendukung kebutuhan pelanggan secara optimal.
Hilirisasi dan Energi Terbarukan Jadi Arah Baru
Sejalan dengan transformasi bisnis, PTBA mendorong hilirisasi dan diversifikasi untuk menambah nilai sumber daya sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru. Bersama mitra strategis, perseroan mengeksplorasi pengembangan Dimethyl Ether (DME) dan Metanol, mencakup aspek teknologi, keekonomian, dan skema bisnis.
PTBA juga tengah mengembangkan Kalium Humat, produk berbasis hasil pengolahan batu bara yang berpotensi mendukung sektor pertanian. Langkah ini memperluas pemanfaatan batu bara di luar fungsi energi.
Portofolio perseroan melebar ke sektor energi terbarukan. PTBA menjajaki kerja sama dengan PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lahan pascatambang dan sekitar area operasional.
Lonjakan laba 218 persen menempatkan PTBA di jalur pemulihan setelah tekanan operasional sebelumnya. Dengan proyek logistik yang hampir rampung dan lini bisnis baru yang mulai dibangun, perseroan berupaya menjaga momentum di sisa tahun sambil memperkuat posisinya di rantai pasok batu bara nasional.