KALIMANTAN UTARA — Jakarta — Dua anak usaha di bawah Subholding Gas Pertamina itu resmi menandatangani Nota Kesepahaman tentang Kesiapsiagaan Penanganan Keadaan Darurat pada Sistem Pipa Bawah Laut PT Nusantara Regas. Penandatanganan berlangsung di Jakarta, dilakukan Direktur Utama NR Mohd. Iskandar Mirza bersama Direktur Utama PGN Solution Sonny Rahmawan Abdi.
Langkah ini menyasar titik paling rawan dalam rantai operasional NR. Perusahaan mengoperasikan Floating Storage & Regasification Unit (FSRU) Jawa Barat di Perairan Teluk Jakarta, yang tersambung ke Onshore Receiving Facility (ORF) Muara Karang lewat pipa bawah laut sekitar 15 kilometer.
Kenapa Teluk Jakarta Jadi Titik Paling Rentan
Perairan Teluk Jakarta tercatat sebagai salah satu jalur pelayaran terpadat di Indonesia. Pipa yang membentang di dasar laut kawasan itu menghadapi risiko harian: lalu lintas kapal dan kemungkinan kerusakan akibat jangkar yang terseret.
Gas hasil regasifikasi LNG dari FSRU mengalir melalui pipa tersebut menuju daratan. Dari sana, pasokan diarahkan ke PLTGU Muara Karang, Tanjung Priok, dan PLTGU Muara Tawar — tiga pembangkit yang menopang listrik ibu kota dan sekitarnya.
Menghadapi kondisi darurat di infrastruktur bawah laut menuntut kesiapan personel, kapal, peralatan, material, dan kompetensi teknis yang bisa dimobilisasi dalam waktu singkat. Tidak ada ruang untuk respons lambat.
Bukan Sekadar Respons Saat Insiden Terjadi
Mirza menegaskan, kesiapan darurat merupakan bagian inti dari upaya menjaga keandalan operasi perseroan. Menurutnya, fasilitas NR memegang peran strategis bagi keberlangsungan pasokan energi pembangkit di Jakarta dan Jawa Barat.
"Mengingat krusialnya peran NR dalam menjaga keberlangsungan pasokan energi di Jakarta dan Jawa Barat, diperlukan langkah strategis untuk memperkuat perlindungan dan kesiapsiagaan terhadap aset operasional perusahaan. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem pendukung dan redundansi penanganan yang dibutuhkan apabila terjadi kondisi darurat pada fasilitas NR," ujar Mirza, Rabu (9/9).
Ia menambahkan, kerja sama ini tidak berhenti pada respons pascainsiden. Penyelerasan kompetensi, personel, peralatan, material, dan mekanisme koordinasi justru harus dibangun sebelum insiden terjadi.
"Penanganan keadaan darurat membutuhkan kesiapan yang dibangun sebelum insiden terjadi. Oleh karena itu, penyelarasan kompetensi, personel, peralatan, material, dan mekanisme koordinasi menjadi penting agar respons dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terukur," ungkapnya.
Peran PGN Solution dan Cakupan Kerja Sama
Dalam skema ini, PGN Solution menyokong NR lewat kapabilitas di bidang operasi dan pemeliharaan, engineering, inspeksi, konstruksi, serta layanan teknis infrastruktur energi. Kedua pihak juga akan bertukar data dan informasi teknis, sekaligus memetakan kesiapan sumber daya yang dapat digerakkan saat darurat.
Ruang lingkupnya mencakup kajian teknis dan operasional, analisis risiko, penyusunan pembagian peran dan tanggung jawab, penguatan mekanisme komunikasi dan koordinasi, hingga pelaksanaan simulasi melalui drill dan tabletop exercise.
Sonny Rahmawan Abdi menyoroti bahwa efektivitas penanganan darurat pada infrastruktur energi sangat ditentukan oleh kesiapan dan sinergi antar pihak sejak jauh sebelum insiden.
"Penanganan keadaan darurat pada infrastruktur energi tidak hanya membutuhkan kecepatan respons, tetapi juga koordinasi, kompetensi, dan kesiapan sumber daya yang kuat. Melalui kerja sama ini, PGN Solution siap mensinergikan kapabilitas yang dimiliki dengan NR untuk memperkuat kesiapan penanganan keadaan darurat, termasuk dalam menjaga keselamatan, keandalan aset, serta keberlangsungan operasi," ujar Sonny.
Langkah Lanjutan Usai Nota Kesepahaman
Nota Kesepahaman ini belum bersifat operasional penuh. Kedua perusahaan akan menyusun bentuk kerja sama lebih konkret melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) atau Emergency Repair Agreement (ERA).
Dokumen lanjutan itu diharapkan memperjelas mekanisme koordinasi, pembagian peran, dan mobilisasi sumber daya saat menghadapi gangguan pada sistem pipa bawah laut.
Kolaborasi ini sekaligus menegaskan komitmen NR dan PGN Solution di bawah Subholding Gas Pertamina dalam menjaga asset integrity, keandalan operasional, keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, dan kontinuitas penyaluran gas. Bagi pelanggan listrik di Jakarta dan Jawa Barat, kelancaran pipa 15 kilometer di Teluk Jakarta itu menentukan apakah lampu tetap menyala saat kapal-kapal besar melintas di atasnya.