Keberhasilan Kabupaten Malinau mengembangkan gerakan literasi berbasis kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat menarik perhatian Kementerian PPN/Bappenas. Tim dari Bappenas, Perpustakaan Nasional (Perpusnas), dan Kemendagri sengaja datang ke Malinau untuk mempelajari praktik baik tersebut dalam Forum Konsultasi Publik Penyusunan Peta Jalan Revitalisasi Perpustakaan Sekolah dan Madrasah, Rabu (2/9) lalu.
MALINAU — Kabupaten Malinau di Kalimantan Utara kembali dilirik sebagai daerah percontohan nasional dalam pengembangan literasi. Wakil Direktur Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) Bidang Pengembangan Ekosistem Subnasional, Handoko Widagdo, menyebut pendekatan yang dipakai daerah ini berbeda karena tidak sekadar menunggu sarana prasarana baru.
“Di Malinau, kami melihat contoh yang sangat baik. Program literasi tidak dimulai dari menunggu sarana dan prasarana lengkap, tetapi dari bagaimana memanfaatkan apa yang sudah ada,” ujarnya di Malinau, Jumat.
Kekuatan Utama: Kolaborasi Sekolah dan Taman Bacaan
Handoko menilai kekuatan gerakan literasi di Malinau terletak pada keterlibatan banyak pihak. Dinas Pendidikan, sekolah, hingga masyarakat bahu-membahu menggerakkan program ini. Peran Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menjadi sokoguru yang memberikan pendampingan belajar tambahan bagi anak-anak yang membutuhkan.
Dukungan nyata dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau kepada para pegiat literasi, baik lewat pembinaan maupun penganggaran, disebutnya sebagai sinergi ideal yang layak ditiru daerah lain.
Lebih dari 100 TBM Tumbuh dari Inisiatif Warga
Kepala Perpustakaan Amir Machmud, Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri, Moh Ilham A Hamudy, mengaku terkesan dengan jumlah TBM yang masif. Ia menyebutkan terdapat puluhan hingga lebih dari 100 TBM tersebar di wilayah Malinau.
“Ini adalah gerakan dari bawah dan menjadi lebih masif karena bantuan dari pemerintah daerah dan teman-teman inovasi juga sangat mendukung kegiatan TBM untuk meningkatkan literasi di Kabupaten Malinau,” tuturnya.
Ilham menegaskan ini bukan kunjungan pertamanya. Sebelumnya ia sempat datang ke Malinau pada Maret lalu dan bertemu kembali dengan para penggerak TBM di Jakarta pada Juli 2026. Ia menyaksikan sendiri bagaimana semangat pegiat TBM tidak surut meski kondisi geografis menantang.
Geografis Menantang Tak Menyurutkan Semangat Pegiat
“Dengan segala keterbatasan dan geografis yang agak susah, karena dari satu desa ke desa yang lain membutuhkan perjalanan yang tidak mudah, mereka tetap datang untuk mengaktifkan TBM,” kata Ilham.
Kunjungan tim Bappenas, Perpusnas, Kemendagri, dan INOVASI ke Ruang Laga Feratu, Kantor Bupati Malinau, bertujuan menggali kunci sukses daerah ini. Program INOVASI sendiri merupakan kemitraan Pemerintah Australia dan Indonesia di bidang pendidikan dasar.
Pemkab Malinau diharapkan terus mendampingi pegiat literasi agar capaian ini tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi ekosistem yang berkelanjutan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah perbatasan tersebut.