Pencarian

Polda Kaltara dan STIK Lemdiklat Polri Susun Model Polisi Penanganan Bencana Berbasis Manajemen Risiko untuk Anggota di Lapangan

Kamis, 03 September 2026 • 20:50:01 WIB
Polda Kaltara dan STIK Lemdiklat Polri Susun Model Polisi Penanganan Bencana Berbasis Manajemen Risiko untuk Anggota di Lapangan
Wakapolda Kalimantan Utara Brigjen Pol. Yusuf membuka forum diskusi terfokus penyusunan model pemolisian penanganan bencana di Tanjung Selor, Kamis (03/09).
Penanganan Bencana Berbasis Manajemen Risiko untuk Anggota di Lapangan LEAD: Polda Kalimantan Utara bersama STIK Lemdiklat Polri merancang model pemolisian penanganan bencana berbasis manajemen risiko. Model ini ditargetkan menjadi panduan praktis bagi anggota di lapangan, bukan sekadar rekomendasi akademik. FGD digelar di Tanjung Selor, Kamis (03/09). ISI:

TANJUNG SELOR — Polda Kalimantan Utara bersama Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri menggelar forum diskusi terfokus (FGD) untuk menyusun model pemolisian penanganan bencana. Kegiatan berlangsung di Ruang Ruppatama Bhara Daksa Polda Kaltara. Wakapolda Kaltara Brigjen Pol. Yusuf, S.I.K., membuka acara mewakili Kapolda.

Ketua Tim Supervisi Brigjen Pol. Dr. Mohamad Aris, S.H., S.I.K., M.Si., dan Ketua Tim Peneliti Kombes Pol. Dr. Tagor Hutapea, S.I.K., M.Si., hadir bersama jajaran pejabat utama Polda Kaltara. Diskusi mencakup aspek pemolisian, manajemen risiko, hingga perspektif hukum dalam penanganan bencana.

Karakteristik Kaltara Jadi Bahan Pertimbangan

Kapolda Kaltara menilai penelitian ini relevan dengan kebutuhan kepolisian di daerah. Kalimantan Utara memiliki karakteristik geografis berbeda dari wilayah lain, sehingga model penanganan bencana tidak bisa disamaratakan.

“Penelitian ini menurut saya sangat relevan, apalagi substansinya diarahkan pada pembangunan model pemolisian berbasis manajemen risiko dalam penanganan bencana dari perspektif hukum,” demikian amanat Kapolda Kaltara yang dibacakan Wakapolda.

Kapolda berharap model yang dihasilkan kuat secara akademis dan hukum, tetapi tetap sederhana. Yang terpenting, anggota di lapangan bisa langsung menggunakannya saat menghadapi situasi darurat.

Tim Peneliti Diminta Terbuka soal Kekurangan

Kapolda meminta tim peneliti melihat kondisi lapangan secara jujur dan menyeluruh. Data yang dihimpun tidak boleh hanya menonjolkan hal-hal yang sudah berjalan baik, sementara persoalan diabaikan.

“Silakan gali data, masukan, kendala maupun praktik-praktik yang selama ini sudah berjalan di Polda Kaltara dan jajaran. Kalau ada kekurangan, sampaikan kepada kami karena dari situlah kita bisa melakukan perbaikan,” tegasnya.

Masukan ini penting karena Kaltara kerap menghadapi kendala khusus. Mulai dari akses wilayah hingga koordinasi lintas sektor saat bencana terjadi.

Masukan Lapangan Jadi Bahan Penyusunan Model

Ketua Tim Supervisi Brigjen Pol. Dr. Mohamad Aris menyebut FGD menjadi sarana utama mengumpulkan pengalaman personel Polda Kaltara. Masukan mereka akan menjadi bahan penting dalam menyusun model pemolisian yang tengah dirancang.

“Kami berharap melalui kegiatan ini dapat memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi, pengalaman, kendala, serta berbagai praktik yang telah dilaksanakan Polda Kaltara dan jajaran dalam penanganan bencana. Seluruh masukan akan menjadi bahan penting bagi tim dalam menyusun model pemolisian yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah,” ujar Aris.

Model yang dirumuskan harus punya landasan akademis dan hukum yang kuat, sekaligus menjawab kebutuhan praktis personel di lokasi kejadian. Setelah sesi pembukaan, FGD berlanjut dengan pendalaman data bersama tim peneliti dan pejabat utama Polda Kaltara.

Follow faktakaltara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: qiblatku.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks