TANJUNG SELOR — Zainal menyebut DAD Kaltara sebagai rumah besar yang menaungi keberagaman sub-suku Dayak, mulai dari Kenyah, Lundayeh, Kayan, Bulungan, hingga Tidung. Menurutnya, keberagaman itu justru menjadi kekuatan pemersatu daerah yang harus dirawat di tengah tantangan zaman.
“Dewan Adat Dayak merupakan rumah besar yang menaungi keberagaman dan menjadi wadah merumuskan langkah bijaksana menghadapi tantangan zaman,” ujar Zainal dalam keterangan yang diterima redaksi.
Gubernur menilai posisi DAD Kaltara sangat strategis mengingat provinsi ini berbatasan langsung dengan Malaysia. Fondasi sosial dan budaya yang kuat, kata dia, menjadi prasyarat menjaga stabilitas di kawasan perbatasan.
Penguatan adat dan budaya ini, lanjut Zainal, sejalan dengan visi pembangunan Kaltara 2025–2030: “Terwujudnya Fondasi Transformasi Kaltara yang Kokoh sebagai Beranda Depan NKRI yang Maju, Makmur dan Berkelanjutan.” Salah satu misi utamanya adalah memperkuat ketahanan sosial, budaya, dan ekologi.
“Dalam konteks ini, Dewan Adat Dayak menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan, pelestarian budaya dan keberlanjutan lingkungan,” tegasnya.
Pemprov Kaltara mendorong DAD untuk menggali potensi ekonomi dari budaya lokal. Zainal menyebut sektor kerajinan ukiran, anyaman, manik-manik, alat musik tradisional, seni pertunjukan, hingga kuliner khas Dayak bisa dikelola secara berkelanjutan.
Jika dikembangkan dengan baik, produk-produk budaya itu tidak hanya memberi nilai tambah ekonomi, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap adat dan budayanya sendiri. Apalagi, Kaltara kini menjadi wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Masyarakat adat diharapkan tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan sosial serta kelestarian hutan,” ucap Zainal.
Di akhir sambutannya, Zainal menegaskan komitmen Pemprov Kaltara mendukung kelembagaan adat melalui program nyata. Beberapa di antaranya adalah pembinaan desa budaya, penguatan festival budaya, serta perlindungan situs adat dan kawasan historis masyarakat adat.
“Melalui Musdalub ini, diharapkan lahir keputusan-keputusan terbaik yang mampu menjaga marwah adat sekaligus memberikan arah konstruktif bagi kemajuan tanah Kaltara,” pungkasnya.
Pembukaan Musdalub DAD Kaltara ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali oleh Gubernur Zainal.