JAKARTA — Purnomo Setiawan (43) tak perlu lagi sibuk mencari uang kembalian saat jam sibuk malam hari. Sejak bergabung dengan klaster binaan BRI pada 2022, lapak gultik miliknya di Bulungan, Jakarta Selatan, melayani pembeli cukup dengan pemindaian kode QR.
“Sekarang lebih cepat, pembeli tinggal scan saja, jadi nggak perlu nunggu lama atau cari uang kembalian,” ujar Purnomo saat ditemui Media Indonesia di lapaknya, pekan lalu.
Purnomo memulai bisnis gultik pada 2008, mengikuti jejak pamannya setelah sebelumnya bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan media. Perubahan kepemilikan rumah di belakang lokasi jualan kala itu memaksanya beradaptasi dengan izin lapak baru.
Kini, kehadiran QRIS BRI menjadi penopang utama. Sistem nontunai ini memotong waktu tunggu pelanggan, terutama pada jam sibuk malam hari. Hasilnya, omzet Purnomo tercatat naik 30 persen sejak mengadopsi teknologi tersebut.
Menu gulai tikungan (gultik) yang dijual Purnomo merupakan hidangan khas Solo yang telah berkembang puluhan tahun menjadi ikon kuliner malam Blok M. Ia mengenang awal berjualan, harga seporsi gultik masih Rp2.000 dengan porsi lebih besar.
“Kalau dulu harga masih Rp2.000, tambah setengah jadi Rp3.000. Sekarang Rp10.000, porsinya juga sudah enggak besar-besar,” katanya.
Purnomo sudah menjadi nasabah BRI sejak 2016 saat masih tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah. “Di kampung saya di Sukoharjo adanya cuma BRI, jadi saya sudah jadi nasabah sejak 2016,” ujarnya.
Pada 2022, seorang tenaga pemasaran BRI menawarkan kerja sama yang membawanya masuk menjadi bagian klaster binaan bank tersebut. Kemitraan itu tak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga membuka akses pembinaan usaha bagi pedagang kecil.