NUNUKAN — Pelaksana Tugas Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Nunukan, Beny Patisadia, menyebut antrean tiket pesawat bagi warga perbatasan bukan hal baru. Lonjakan penumpang biasanya memuncak menjelang libur sekolah, acara reuni warga Krayan, hingga momen Natal dan Tahun Baru.
"Sering terjadi masyarakat sulit mendapatkan tiket dan sering mengantri tiket, baik yang terjadi di Kota Tarakan maupun di Nunukan," ujar Beny saat dihubungi detikKalimantan, Minggu (1/11).
Berapa Kapasitas Penerbangan Subsidi yang Beroperasi Saat Ini?
Penerbangan di Nunukan selama ini dilayani armada Susi Air melalui program Subsidi Ongkos Angkut (SOA) APBD Nunukan dengan frekuensi 4,5 kali per minggu. Selain itu, terdapat penerbangan subsidi APBN sebanyak 2 kali per minggu.
Keterbatasan kursi menjadi persoalan utama. Beny menyebut kapasitas hanya 12 kursi per penerbangan, sehingga moda transportasi utama masyarakat perbatasan belum sepenuhnya mampu menampung lonjakan penumpang.
"Meski demikian, keterbatasan seat yang hanya berkapasitas 12 kursi per penerbangan membuat moda transportasi utama masyarakat perbatasan tersebut belum sepenuhnya mampu menampung lonjakan penumpang," sambungnya.
Dua Rute yang Akan Dilayani Penerbangan Baru
Layanan penerbangan ini direncanakan menghubungkan dua rute pergi-pulang yang strategis di Kaltara. Rute pertama dari Bandara Juwata Tarakan menuju Bandara Kolonel RA Bessing di Malinau.
Rute kedua membuka konektivitas langsung dari Bandara Juwata Tarakan menuju Bandara Yuvai Semaring di Krayan/Long Bawan (PP). Armada jenis Cessna Caravan dan Pilatus Porter disiapkan untuk melayani kedua rute tersebut.
Pemkab Nunukan Minta Maskapai Kaji Daya Beli Warga
Kendati menyambut baik, Pemkab Nunukan memberikan catatan. Menurut Beny, pihak maskapai perlu melakukan kajian mendalam terkait kondisi ekonomi warga setempat sebelum menentukan kisaran tarif penerbangan.
"Perlu juga maskapai melakukan kajian singkat terhadap kemampuan daya beli masyarakat dan aspek-aspek lain terhadap layanan transportasi tersebut," imbau Beny.
Penerbangan nonsubsidi yang diinisiasi pihak swasta dinilai krusial untuk mengurai antrean panjang serta mempermudah mobilitas masyarakat umum, wisatawan, hingga aparatur pemerintahan.
"Jika ada penerbangan mandiri hadir, maka akan membantu dengan adanya pilihan masyarakat serta dapat mengurai antrean tiket dan memberikan akses kepada masyarakat secara luas," jelasnya.
Kapan Penerbangan Mulai Beroperasi?
PT Marege Rajawali Perkasa menargetkan layanan penerbangan baru beroperasi pada akhir tahun 2026. Warga perbatasan Kaltara menantikan masuknya armada Cessna Caravan dan Pilatus Porter yang akan melayani rute Tarakan–Malinau (PP) serta Tarakan–Long Bawan (PP).
Jika terealisasi sesuai jadwal, warga Krayan dan Malinau akan memiliki alternatif transportasi udara di luar kuota penerbangan bersubsidi yang selama ini menjadi satu-satunya pilihan.