TARAKAN — Skema matching grants M4CR menyasar pokmas yang mengembangkan usaha berbasis potensi mangrove dan pesisir. Dana hibah dikucurkan bertahap sejak awal 2026, dengan penerima tersebar di Tana Tidung, Nunukan, dan Bulungan.
Pelaksana proyek mencatat hampir seluruh kelompok penerima digerakkan oleh perempuan. Komposisi itu muncul dari proses seleksi yang menilai keberlanjutan usaha dan dampak langsung ke rumah tangga penerima.
Mengapa Kelompok Perempuan Dipilih
Sekretaris Direktorat Jenderal PDASRH selaku Executive Director M4CR Project, Muhammad Zainal Arifin, menyebut kelompok yang dikelola perempuan memberi hasil lebih cepat terasa di tingkat keluarga.
"Pokmas yang dikelola oleh perempuan terbukti memberikan dampak yang lebih langsung terhadap kesejahteraan keluarga dan masyarakat pesisir, serta memiliki tingkat keberlanjutan usaha yang relatif lebih tinggi," ungkap Zainal dalam Diskusi Media Gathering M4CR di Tarakan, Senin (2/11/2026).
Capaian tersebut mendapat apresiasi khusus dari Bank Dunia. Proyek ini merupakan kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia, dengan pemulihan ekosistem mangrove sebagai kerangka utama.
Dari Amplang sampai Kipas Batik
Produk yang dikembangkan pokmas terbagi dua kategori. Olahan pangan berbasis mangrove dan hasil pesisir mendominasi, mulai dari amplang, abon ikan asin, sambal ikan asap, bandeng cabut duri, sambal ebi, stick tudai (kerang dara), hingga Virgin Coconut Oil (VCO).
Lini non-pangan bergerak di peternakan ayam petelur, penggemukan budidaya kepiting bakau, dan kerajinan kipas angin batik. Ragam usaha itu memberi pokmas beberapa sumber pendapatan sekaligus, tidak bergantung pada satu komoditas saja.
Alokasi dana per kelompok mendekati Rp150 juta. Nominal itu dipakai untuk pengembangan usaha, bukan hanya kegiatan penghijauan, sehingga manfaat ekonomi bisa berjalan berdampingan dengan pelestarian ekosistem.
Mangrove sebagai Fondasi Ekonomi Warga Pesisir
M4CR menempatkan pemulihan ekosistem mangrove bukan sebagai program penghijauan semata. Orientasinya mencakup penciptaan kemandirian ekonomi masyarakat lokal di kawasan pesisir.
Perpaduan pelestarian ekosistem dan penguatan kapasitas ekonomi warga, khususnya perempuan, dinilai menjadi kunci keberlanjutan hutan mangrove di Kaltara. Selama pendapatan pokmas tumbuh, tekanan terhadap kawasan mangrove diperkirakan ikut menurun.
Proyek ini menargetkan kelestarian hutan mangrove tetap terjaga seiring meningkatnya kesejahteraan warga pesisir. Evaluasi lanjutan atas 16 pokmas penerima hibah akan menentukan apakah skema matching grants diperluas ke kelompok lain di Kalimantan Utara.