Pencarian

5 Fakta Unik Sumpah Pemuda yang Jarang Diketahui

Rabu, 28 Oktober 2026 • 08:36:01 WIB
5 Fakta Unik Sumpah Pemuda yang Jarang Diketahui
Gedung Indonesische Clubgebouw di Weltevreden menjadi lokasi pembacaan ikrar Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.

KALIMANTAN UTARA — Sumpah Pemuda diperingati setiap 28 Oktober sebagai tonggak persatuan bangsa. Di balik ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, ada sejumlah cerita yang jarang dibahas di buku pelajaran. Berikut lima fakta yang menunjukkan peristiwa 1928 itu lebih luas dari sekadar pembacaan naskah.

Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928 menjadi titik penting bagi gerakan pemuda Nusantara. Namun, banyak detail di balik peristiwanya yang luput dari perhatian publik. Fakta-fakta berikut memberi gambaran lebih utuh tentang bagaimana ikrar itu lahir dan siapa saja yang terlibat.

1. Nama "Sumpah Pemuda" Belum Ada Saat Ikrar Dibacakan

Rumusan ikrar yang dibacakan dalam Kongres Pemuda II awalnya tidak memiliki judul khusus. Para peserta berkumpul untuk membahas gagasan persatuan, dan rumusan itu belum langsung dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda. Penyebutan nama tersebut baru muncul setelah kongres berlangsung beberapa hari. Meski begitu, tanggal 28 Oktober tetap menjadi tonggak yang diperingati setiap tahun.

2. Mohammad Yamin Merumuskan Naskah di Secarik Kertas

Sebagai sekretaris Kongres Pemuda II, Mohammad Yamin berperan merapikan gagasan hasil diskusi menjadi rumusan yang lebih terstruktur. Menurut kisah yang tercatat dalam buku Bisa Sejarah Indonesia untuk SMA, Yamin menuliskan rumusan itu pada secarik kertas. Kertas tersebut diserahkan kepada Soegondo Djojopoespito saat Mr. Sunario tengah berpidato di sesi akhir kongres. Soegondo lalu membacakan ikrar itu, dan Yamin menjelaskannya lebih lanjut.

3. Kongres Digelar di Rumah Warga Keturunan Tionghoa

Buku Politik Kebangsaan karya Joko Siswanto mencatat bahwa ikrar dibacakan di Gedung Indonesische Clubgebouw, Weltevreden, yang kini dikenal sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Bangunan itu milik Sie Kok Liong, seorang warga keturunan Tionghoa. Sejumlah perwakilan pemuda peranakan Tionghoa juga hadir dalam kongres dan turut mengikrarkan Sumpah Pemuda. Fakta ini menegaskan bahwa semangat persatuan tumbuh dari masyarakat yang beragam.

4. Enam Perempuan Ikut Tercatat sebagai Peserta

Dari 82 peserta yang tercatat resmi dalam Kongres Pemuda II, enam di antaranya adalah perempuan. Jumlahnya memang kecil, tetapi kehadiran mereka menunjukkan bahwa perempuan turut ambil bagian dalam gerakan pemuda masa itu. Keterlibatan ini juga menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun bangsa tidak dilakukan satu kelompok saja.

5. Peserta Datang dari Sumatera Barat hingga Maluku

Kongres mempertemukan perwakilan organisasi pemuda dari berbagai wilayah Nusantara dengan latar budaya berbeda. Mohammad Yamin berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, sementara Johannes Leimena datang dari Ambon, Maluku. Pertemuan berbagai perwakilan daerah itu memperlihatkan bahwa persatuan tidak menuntut latar belakang yang sama. Perbedaan justru menjadi kekuatan ketika semua pihak punya tujuan bersama.

Lima fakta di atas menunjukkan bahwa peristiwa 28 Oktober 1928 menyimpan cerita yang lebih luas daripada pembacaan ikrar semata. Semangat persatuan yang lahir dari keberagaman itu tetap relevan untuk dirawat hingga sekarang.

Follow faktakaltara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: beautynesia.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks