Pencarian

Saham Netflix Anjlok 6% ke Rekor Terendah, Wall Street Debat Arah Baru

Rabu, 21 Oktober 2026 • 18:35:31 WIB
Saham Netflix Anjlok 6% ke Rekor Terendah, Wall Street Debat Arah Baru
Saham Netflix turun lebih dari 6 persen ke 64,35 dolar AS pada perdagangan pra-pasar.

KALIMANTAN UTARA — Saham Netflix turun lebih dari 6 persen ke 64,35 dolar AS pada perdagangan pra-pasar, menandai titik terendah baru dalam 52 pekan setelah laporan kuartal ketiga dirilis. Analis Evercore ISI Mark Mahaney memangkas target harga dari 110 dolar AS menjadi 90 dolar AS, sementara Brian Pitz dari BMO Capital Markets mempertahankan target 125 dolar AS. Pertanyaannya kini: apakah raksasa streaming itu bisa membalik keadaan?

Penurunan saham Netflix terjadi setelah manajemen menyampaikan proyeksi yang lebih lemah dari perkiraan pasar. Sebelumnya, titik terendah 52 pekan berada di 65,08 dolar AS pada penutupan Selasa. Kini investor menimbang ulang apakah strategi konten dan iklan perusahaan masih bisa mendorong pertumbuhan.

Eksekusi Konten Jadi Sorotan

Dalam sesi tanya jawab dengan analis, CEO bersama Ted Sarandos menegaskan tidak ada kebutuhan untuk mengubah strategi secara fundamental. Menurutnya, yang dibutuhkan adalah eksekusi yang lebih baik, khususnya di pasar Amerika Serikat.

"There is no need for a fundamental shift in the strategy. We do need better execution in the U.S.," ujar Sarandos. Ia menambahkan bahwa pertumbuhan di wilayah tersebut belum secepat yang diharapkan, meski beberapa judul mencatat performa solid.

CEO bersama Greg Peters juga menyinggung kekurangan pendapatan iklan pada 2026. Dua perubahan besar di jajaran konten turut mewarnai periode ini: keluarnya kepala film Dan Lin dan penggantian kepala konten Bela Bajaria oleh Peter Rice.

Respons Analis: Masalah Sementara atau Struktural?

Mark Mahaney dari Evercore ISI menyoroti bahwa ini adalah kuartal ketiga berturut-turut saham Netflix bergerak turun pasca-rilis laporan. Ia mencatat panduan perusahaan sudah empat kuartal beruntun lebih rendah pada setidaknya satu metrik.

Mahaney menyebut beberapa penyebab: kematangan pasar, persaingan dari YouTube, Amazon, dan Disney, tantangan dari platform konten pendek seperti TikTok, serta eksekusi konten yang meleset. Ia menyoroti absennya hits global besar sejak KPop Demon Hunters.

Meski begitu, ia menilai sebagian besar tantangan itu bisa diatasi. "We believe the Netflix long thesis is still intact. Or at least, we are more confident than the market is that it is intact," tulisnya.

Iklan dan Konten Live Jadi Harapan

Brian Pitz dari BMO Capital Markets menilai perlambatan iklan lebih sebagai sakit tumbuh ketimbang masalah struktural. Ia tetap positif pada peluang monetisasi jangka panjang dan menyebut pertumbuhan anggota masih solid dengan churn yang membaik secara tahunan.

Pitz juga menyoroti peran konten live. Netflix menambah laga NFL Thanksgiving Eve pertamanya, meski konten live baru menyumbang sekitar 1 persen jam tonton dengan 5 persen belanja konten. Ekspansi paket iklan ke 15 pasar baru pada 2027 disebut bisa mempercepat pertumbuhan langganan iklan.

Target Harga dan Ekspektasi Pasar

Michael Morris dari Guggenheim menurunkan target harga dari 80 dolar AS menjadi 78 dolar AS dengan rating buy. Ia menyebut hasil kuartal ketiga memenuhi panduan, tetapi prospektifnya sedikit di bawah ekspektasi.

Perdebatan di Wall Street kini berpusat pada satu hal: apakah Netflix hanya perlu waktu untuk mengeksekusi lebih baik, atau ada pergeseran struktural yang lebih dalam di pasar streaming global. Jawabannya akan terlihat dari performa konten dan iklan dalam beberapa kuartal mendatang.

Follow faktakaltara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: hollywoodreporter.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks