Pencarian

Rupiah Berisiko Melemah ke Rp17.930–Rp17.990 per USD, Tertekan Inflasi AS

Jumat, 16 Oktober 2026 • 08:37:31 WIB
Rupiah Berisiko Melemah ke Rp17.930–Rp17.990 per USD, Tertekan Inflasi AS
Pelemahan rupiah diproyeksikan berada di rentang Rp17.930–Rp17.990 per USD.

KALIMANTAN UTARA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diproyeksikan bergerak fluktuatif namun berisiko ditutup melemah di rentang Rp17.930 hingga Rp17.990 per USD. Lonjakan inflasi konsumen AS yang melampaui ekspektasi pasar kembali memperkuat posisi dolar dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Proyeksi itu disampaikan Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jumat (16/10/2026). Menurut dia, tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang belum mereda.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun berisiko ditutup melemah di rentang Rp17.930 hingga Rp17.990 per USD. Lonjakan inflasi konsumen AS yang berada di atas ekspektasi pasar kembali memperkuat posisi dolar dan menekan mata uang negara berkembang," ujar Ibrahim.

Inflasi AS Naik 0,6 Persen, Lampaui Konsensus Pasar

Pemicu utama pelemahan rupiah datang dari rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan September. Angka inflasi bulanan tercatat naik 0,6 persen secara month-to-month, meningkat dari realisasi Agustus sebesar 0,4 persen dan sejalan dengan konsensus.

Kenaikan tersebut mengerek inflasi tahunan AS menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,4 persen. Realisasi itu melampaui proyeksi pasar yang memperkirakan inflasi bertahan di level 3,6 persen.

Kenaikan harga bensin, solar, dan komoditas pangan menjadi motor utama laju inflasi umum tersebut. Ketiga komponen itu memberi tekanan langsung pada indeks harga konsumen Negeri Paman Sam.

The Fed Berpeluang Naikkan Suku Bunga

Meningkatnya tekanan inflasi di AS membuka peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga. Ekspektasi kenaikan suku bunga itu memperkuat posisi dolar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Bagi investor, penguatan dolar AS biasanya berdampak pada aliran modal keluar dari pasar negara berkembang. Tekanan ini berpotensi menekan harga aset berdenominasi rupiah, mulai dari obligasi hingga saham.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha dan Investor

Pelemahan rupiah di kisaran Rp17.930–Rp17.990 per USD menjadi sinyal penting bagi pelaku usaha yang bergantung pada impor bahan baku. Biaya impor berpotensi naik, sementara eksportir justru memperoleh keuntungan dari selisih kurs.

Bagi investor, pergerakan kurs menjadi salah satu faktor yang menentukan arah pasar obligasi dan saham. Kombinasi inflasi AS yang tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi sentimen yang perlu dicermati dalam menyusun strategi investasi pekan ini.

Follow faktakaltara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: idxchannel.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks