KALIMANTAN UTARA — Pekan ini menjadi ujian bagi investor logam mulia. Setelah sempat reli ke level tertinggi sejak pertengahan Mei, harga emas domestik justru terkoreksi. Pantauan laman resmi Pegadaian siang tadi menunjukkan seluruh produk emas batangan turun dibandingkan perdagangan Kamis.
Pelemahan ini terjadi di tengah gejolak pasar global. Investor dunia sedang menanti arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang akan menentukan pergerakan harga emas dalam beberapa pekan ke depan.
Antam Turun ke Rp 2,7 Jutaan, Galeri24 Paling Murah
Dari tiga produk yang dijual, emas Antam masih menjadi yang termahal. Harga emas batangan Antam ukuran 1 gram dipatok Rp 2.759.000 per gram, turun tipis dari posisi kemarin di level Rp 2.764.000.
Emas produksi UBS dibanderol Rp 2.729.000 per gram, melemah dari Rp 2.754.000. Adapun emas Galeri24 menjadi pilihan paling ekonomis dengan harga Rp 2.657.000 per gram, turun dari Rp 2.681.000 pada perdagangan sebelumnya.
Untuk ukuran terkecil 0,5 gram, emas Galeri24 dijual seharga Rp 1.393.000, Antam Rp 1.431.000, dan UBS Rp 1.475.000. Ketersediaan ukuran pun bervariasi: Galeri24 tersedia hingga 1 kilogram, UBS hingga 500 gram, sementara Antam hanya sampai 100 gram.
Pasar Menanti Sinyal The Fed di Jackson Hole
Pelemahan harga emas hari ini tak lepas dari sikap wait-and-see pelaku pasar. Mereka tengah menantikan pidato perdana Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium tahunan Jackson Hole di Wyoming. Investor berharap Warsh memaparkan peta jalan pengendalian inflasi dan pandangannya terhadap peran pasar obligasi.
Harga emas di pasar spot sebenarnya sempat menguat 0,4% menjadi US$ 4.609,97 per ons pada perdagangan Kamis. Namun, penguatan itu terjadi setelah sehari sebelumnya emas mencatat penurunan harian terbesar dalam sepekan, yakni 1,4%.
Reli emas pekan ini sebelumnya didorong kekhawatiran penurunan nilai dolar AS. Langkah Departemen Keuangan AS yang meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang turut memicu permintaan emas sebagai aset alternatif.
Bank Sentral dan ETF Masih Jadi Penopang Utama
Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, menilai permintaan emas saat ini masih kuat. "Saya bersikap bullish semata-mata karena permintaan saat ini; kita melihat banyak permintaan yang datang dari sisi ETF, serta permintaan dari bank sentral yang menjadikannya aset alternatif selain dolar," ujarnya.
Kendati demikian, Haberkorn mengingatkan pasar akan tetap berhati-hati sebelum ada kepastian dari pertemuan Jackson Hole. Data terbaru menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS naik 3,7% secara tahunan hingga Juli, sedikit di atas perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,6%.
Angka inflasi yang masih panas membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember tetap terbuka lebar, yakni 74%, menurut CME FedWatch Tool. Padahal peluang kenaikan pada September hanya 34%. Suku bunga tinggi biasanya menekan daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Bagi masyarakat yang ingin berinvestasi emas batangan, harga di Pegadaian bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar global.