Pencarian

Badak Putih Utara Tersisa Dua Ekor Betina, 39 Embrio Belum Hasilkan Kehamilan

Rabu, 16 September 2026 • 20:08:31 WIB
Badak Putih Utara Tersisa Dua Ekor Betina, 39 Embrio Belum Hasilkan Kehamilan
Badak putih utara Najin dan Fatu di Ol Pejeta Conservancy, Kenya, menjadi dua individu terakhir subspesies tersebut.

KALIMANTAN UTARA — Populasi badak putih utara kini tinggal dua ekor betina, Najin dan Fatu, yang hidup di Ol Pejeta Conservancy, Kenya, di bawah penjagaan bersenjata. Konsorsium internasional telah menghasilkan 39 embrio murni di laboratorium, tetapi enam yang ditanamkan ke induk pengganti badak putih selatan belum satu pun menghasilkan kehamilan yang bertahan hingga April 2026.

Najin lahir di sebuah taman safari di Republik Ceko pada 11 Juli 1989, sementara Fatu lahir pada 29 Juni 2000. Keduanya merupakan induk dan anak yang menjadi sisa terakhir subspesies badak putih utara di muka bumi.

Keduanya tidak dapat mengandung anak akibat gangguan serius pada sistem reproduksi yang terdeteksi pada 2014. Kondisi itu memaksa upaya penyelamatan beralih ke teknologi reproduksi berbantu, dengan sel telur yang harus diambil dan dibuahi di luar tubuh.

Bagaimana Proses Pembuahan Buatan Dijalankan

Sel telur dari Fatu dan Najin dimatangkan serta dibuahi di laboratorium Avantea di Cremona, Italia. Pembuahan menggunakan sperma beku dari badak putih utara jantan yang telah mati, sehingga materi genetik subspesies ini tetap bisa dipertahankan meski seluruh pejantan sudah tidak ada.

Pengambilan sel telur pertama dilakukan pada 22 Agustus 2019. Tiga embrio pertama yang dihasilkan dari prosedur tersebut seluruhnya berasal dari Fatu.

Najin kemudian dihentikan dari program pengambilan sel telur setelah menjalani tiga prosedur tanpa menghasilkan embrio. Sejak Oktober 2021, Fatu menjadi satu-satunya donor sel telur dalam program ini.

Fatu Jalani 21 Kali Pengambilan Sel Telur

Hingga Agustus 2025, Fatu telah menjalani 21 kali pengambilan oosit. Pada periode itu, konsorsium mencatat 38 embrio murni badak putih utara berhasil dihasilkan.

Pengambilan sel telur berikutnya pada awal 2026 menambah satu embrio, sehingga total menjadi 39. Fatu kini berusia 26 tahun dan masih menghasilkan oosit.

Angka 39 merujuk pada jumlah embrio yang pernah dihasilkan, bukan jumlah yang masih tersimpan saat ini. Enam embrio sudah digunakan dalam upaya transfer ke induk pengganti.

Enam Transfer Embrio, Nol Kehamilan Bertahan

Hingga April 2026, enam embrio telah dipindahkan ke induk pengganti badak putih selatan di Kenya. Badak putih selatan dipilih karena masih berkerabat dekat secara genetik.

Belum satu pun transfer menghasilkan kehamilan yang bertahan. Kegagalan berulang ini menjadi hambatan terbesar dalam upaya mempertahankan subspesies yang tinggal menyisakan dua individu betina.

Dari Garamba hingga Ol Pejeta: Jejak Kepunahan

Badak putih utara dulunya tersebar di Uganda barat laut, Chad selatan, Sudan Selatan, Republik Afrika Tengah bagian timur, hingga Republik Demokratik Kongo bagian timur laut. Perburuan untuk mendapatkan cula menjadi ancaman utama populasi hewan ini.

Konflik bersenjata di sebagian besar wilayah persebarannya memperburuk keadaan karena menghambat upaya perlindungan dan konservasi. Empat individu liar terakhir terlihat di Taman Nasional Garamba, Republik Demokratik Kongo, pada Agustus 2005, dengan tanda keberadaan masih ditemukan hingga 2007.

Laporan belum terkonfirmasi tentang tiga badak putih di Sudan selatan pada 2008 tidak terbukti. Survei pada Juni tahun tersebut tidak menemukan mereka.

Pada Desember 2009, empat badak putih utara terdiri dari dua jantan dan dua betina dipindahkan dari Safari Park Dvur Kralove, Republik Ceko, ke Ol Pejeta. Pemindahan itu diharapkan mendorong perkembangbiakan dalam habitat yang lebih alami.

Harapan tersebut tidak terwujud. Badak jantan bernama Suni mati pada Oktober 2014 akibat sebab alami, disusul Sudan pada 19 Maret 2018 karena usia tua. Sudan merupakan ayah Najin sekaligus kakek Fatu.

Fatu dan Najin pernah terlihat kawin di Ol Pejeta, tetapi tidak pernah berhasil hamil. Konsorsium menyebut gangguan reproduksi keduanya kemungkinan sudah berlangsung cukup lama sebelum akhirnya terdeteksi.

Dengan seluruh pejantan yang telah mati dan dua betina yang tidak dapat mengandung, kelangsungan subspesies ini sepenuhnya bergantung pada keberhasilan teknologi reproduksi yang hingga kini belum membuahkan kelahiran.

Follow faktakaltara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks