TANA TIDUNG — Wacana penyesuaian kesempatan rekrutmen TNI bagi masyarakat Suku Dayak disambut positif oleh Wakil Ketua DPRD Tana Tidung, Markus Yuteng. Ia menilai kebijakan ini mampu memberi ruang yang lebih besar bagi putra-putri Dayak Bulusu di Kalimantan Utara untuk mengikuti seleksi prajurit.
Markus membuka pernyataannya dengan menegaskan bahwa menjadi anggota TNI pada dasarnya merupakan hak konstitusional setiap warga negara. Selama ini pun tidak ada larangan bagi masyarakat Dayak Bulusu di Tana Tidung untuk mendaftar. Namun, ruang yang ada dinilai masih perlu diperlebar agar anak daerah punya peluang bersaing yang lebih adil.
Ruang Pengabdian, Bukan Keistimewaan
Menurut Markus, wacana penyesuaian kesempatan ini tidak serta-merta menjadikan Dayak Bulusu kelompok yang diistimewakan. Ia lebih menekankan pada aspek pemerataan akses bagi daerah-daerah yang selama ini minim keterwakilan di tubuh TNI.
"Kalau ada penyesuaian kesempatan bagi masyarakat Dayak Bulusu, saya kira itu sesuatu yang positif. Bukan berarti diberikan keistimewaan, tetapi memberikan ruang yang lebih luas bagi anak-anak daerah untuk ikut mengabdi kepada negara," kata Markus, Kamis (3/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Markus di tengah pembahasan yang berlangsung di lingkaran DPRD Tana Tidung. Ia berharap kebijakan ini segera ditindaklanjuti dengan sosialisasi yang menjangkau kampung-kampung, bukan hanya kota kabupaten.
Memperkuat Keterwakilan dan Kedekatan dengan Masyarakat
Politikus Partai Hanura itu melihat kebijakan ini berkaitan erat dengan kebutuhan akan keterwakilan daerah di institusi pertahanan. Prajurit yang berasal dari wilayah sendiri, lanjut Markus, biasanya memahami karakter sosial serta kondisi geografis tempat ia dibesarkan. Hal itu menjadi modal saat bertugas di wilayah pedalaman.
Kehadiran prajurit dari berbagai latar belakang juga dinilai mencerminkan keberagaman Indonesia. Semakin beragam komposisi prajurit, semakin erat pula hubungan institusi TNI dengan masyarakat di daerah.
"Kalau ada anak daerah yang menjadi prajurit, tentu ada rasa kedekatan dengan masyarakat. Mereka tumbuh dari lingkungan yang sama dan memahami kondisi daerahnya. Itu bisa menjadi nilai tambah ketika nantinya bertugas," ujarnya.
Menjaga Ingatan Sejarah, Menemukan Bentuk Perjuangan Baru
Markus yang merupakan tokoh Dayak Bulusu mengaitkan peluang ini dengan peran historis masyarakat Dayak dalam menjaga wilayah Kalimantan. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak memperlakukan sejarah perjuangan sebagai cerita usang yang jauh dari kehidupan sekarang.
Perjuangan, kata Markus, tidak selalu berarti mengangkat senjata. Bagi generasi kini, pengabdian bisa diwujudkan lewat jalur pendidikan dan profesi, termasuk menjadi prajurit yang menjalankan tugas kenegaraan dengan tanggung jawab.
"Dulu perjuangannya menghadapi penjajahan dan mempertahankan wilayah. Sekarang generasi muda punya bentuk perjuangan yang berbeda. Salah satunya belajar dengan baik, kemudian kalau memiliki kesempatan menjadi prajurit, jalankan tugas itu dengan penuh tanggung jawab," tutur Markus.
Ia juga menekankan pentingnya kesadaran sejarah di kalangan Dayak Bulusu. Masyarakat Dayak, dalam catatan sejarah Nusantara, memiliki bagian dalam perjuangan bersama para raja dan pejuang lokal lainnya.
"Sejarah tidak boleh dilupakan. Orang Dayak juga sudah berjuang bersama para raja dan pejuang Nusantara. Jadi generasi sekarang harus tahu dari mana mereka berasal dan bagaimana orang-orang terdahulu ikut mempertahankan negeri ini," pungkasnya.