TARAKAN — Di era gawai dan media sosial yang serba instan, kebiasaan membaca buku fisik di kalangan pelajar Kota Tarakan belum sepenuhnya tergerus. Hasil wawancara dengan sejumlah siswa dari SD Patra Dharma, SMPN 13 Tarakan, hingga MAN Tarakan menunjukkan bahwa program literasi sekolah masih efektif menjaga ritme membaca mereka.
Wajib Baca 15 Menit Setiap Hari
Sejumlah sekolah di Tarakan mewajibkan siswanya membaca minimal 15 menit per hari sebagai bagian dari program literasi. Siswi Kelas VI SD Patra Dharma Tarakan, Sakhira Cintia, mengaku biasanya membaca saat istirahat siang atau sebelum tidur.
“Biasanya saya membaca sekitar 15 menit. Tapi kalau artikelnya menarik atau cerita bukunya seru, saya bisa membaca sampai 20 menit atau lebih,” ujarnya. Sakhira menggemari buku fiksi bergenre horor karena penuh misteri dan menegangkan. Ia juga rajin membaca artikel berita untuk mengikuti kejadian terbaru.
Hal serupa diungkapkan Jaden, siswa Kelas VI SD Patra Dharma lainnya. Ia mengaku bisa membaca hingga dua jam saat belajar, terutama buku cerita petualangan dan bacaan tentang kehidupan sehari-hari. “Saya rajin membaca karena ingin menambah wawasan dan membuat bangga orang tua,” katanya.
Praktisnya Ponsel vs Kedalaman Buku Fisik
Meski kebiasaan membaca buku fisik masih terjaga, para pelajar mengakui godaan media sosial cukup kuat. Jaden, misalnya, lebih senang membaca unggahan atau komentar di media sosial karena informasi yang disajikan lebih singkat dan mudah dipahami.
Di tingkat SMP, preferensi terhadap ponsel semakin terlihat. Moza Amelia Fitry, siswi kelas VIII-3 SMPN 13 Tarakan, mengaku lebih sering membaca melalui ponsel dibandingkan buku fisik. “Kalau membaca buku fisik tidak terlalu menentu. Kadang sekitar 25 menit sampai satu jam kalau topiknya menarik, tapi kadang hanya tiga lembar saja,” tuturnya.
Moza menyukai bacaan edukatif, horor, dan aksi. Ia juga tertarik pada literatur tentang teknologi dan tren terbaru. Menurutnya, minat membaca meningkat ketika topik relevan dengan minat pribadi atau sedang hangat diperbincangkan. Sebaliknya, rasa malas muncul jika gaya bahasa terlalu kaku atau terlalu teoritis tanpa contoh praktis.
Syarifah Fauziah Alkaf, teman sekelas Moza, biasanya membaca 15 hingga 30 menit per hari saat waktu luang atau sebelum tidur. Ia menyukai novel, komik, cerita petualangan, dan artikel pengetahuan di internet. “Postingan media sosial biasanya lebih singkat, mudah dipahami, dan membahas hal-hal yang sedang tren sehingga lebih menarik,” ujarnya.
MAN Tarakan: 30-60 Menit Sehari untuk Buku Pengembangan Diri
Di tingkat menengah atas, kebiasaan membaca justru lebih terstruktur. Aurelia Alvini, siswa kelas X-2 MAN Tarakan, mengaku berusaha meluangkan waktu 30 hingga 60 menit setiap hari untuk membaca buku, artikel, maupun berita yang bermanfaat.
Bacaan yang diminatinya antara lain novel fantasi dan buku pengembangan diri. Meski terkadang merasa lelah setelah beraktivitas seharian, ia tetap berupaya membiasakan diri membaca sedikit demi sedikit karena menyadari manfaatnya bagi pengetahuan dan wawasan.
“Sekolah juga mendorong budaya membaca melalui berbagai program literasi sehingga siswa terbiasa membaca buku,” terang Aurelia. Menurutnya, media sosial tetap lebih diminati karena informasinya singkat dan cepat dicerna, namun ia memilih untuk tetap membagi waktu antara membaca buku fisik dan menjelajahi dunia digital.