TARAKAN — Ketika harga ikan laut anjlok atau cuaca buruk menghalangi nelayan melaut, rumput laut menjadi jaring pengaman ekonomi yang tetap berputar. Di tiga kelurahan pesisir Kota Tarakan, komoditas ini bukan sekadar usaha sampingan, melainkan penopang utama bagi ratusan kepala keluarga.
Data Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Tarakan mencatat, luas lahan budidaya rumput laut di kota itu mencapai lebih dari 200 hektare. Ribuan petak rakit apung dan jaring longline menghiasi perairan pesisir, terutama di Kelurahan Karang Anyar, Pantai Amal, dan Juata Laut.
Ratusan KK di 3 Kelurahan Menjadi Petani Rumput Laut
Ketua Kelompok Tani Rumput Laut Bina Sejahtera, Karang Anyar, mengungkapkan bahwa saat ini ada sekitar 300 kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari hasil panen rumput laut. Mereka tersebar di tiga kelurahan dengan mayoritas petani berada di Karang Anyar dan Pantai Amal.
Rata-rata petani mengelola 20 hingga 50 rakit apung. Dalam satu siklus tanam yang berlangsung 45 hari, mereka bisa memanen 500 hingga 1.500 kilogram rumput laut kering per petak. Harga jual di tingkat petani berkisar Rp 10.000 hingga Rp 14.000 per kilogram, tergantung kualitas dan kadar air.
Fluktuasi Harga dan Cuaca Jadi Tantangan Utama
Meski jadi penopang, sektor ini tak lepas dari masalah. Harga rumput laut kerap turun saat musim panen raya. Cuaca ekstrem seperti angin barat dan gelombang tinggi juga menyebabkan gagal panen karena rakit hanyut atau rumput laut terkena penyakit ice-ice.
"Kalau harga turun, kami terpaksa menjual dengan harga murah. Kadang modal saja balik. Tapi ini tetap lebih baik daripada tidak bekerja sama sekali," ujar seorang petani di Pantai Amal yang enggan disebutkan namanya.
Pemkot Tarakan Siapkan Bantuan Bibit dan Pelatihan
Pemerintah Kota Tarakan melalui Dinas Perikanan terus mengalokasikan bantuan bibit unggul dan pelatihan teknik budidaya modern. Tahun ini, sebanyak 15 kelompok tani di tiga kelurahan mendapat bantuan bibit rumput laut jenis cottonii yang lebih tahan terhadap perubahan suhu air.
Program ini juga mencakup pendampingan pascapanen agar petani bisa menjual rumput laut dalam bentuk olahan setengah jadi, bukan hanya bahan baku kering. Langkah itu diharapkan meningkatkan nilai jual dan mengurangi ketergantungan pada tengkulak.
Fakta Singkat Rumput Laut Tarakan
- Luas lahan budidaya: lebih dari 200 hektare
- Jumlah petani: sekitar 300 kepala keluarga
- Tiga kelurahan sentra: Karang Anyar, Pantai Amal, Juata Laut
- Siklus panen: 45 hari per periode
- Harga jual: Rp 10.000–Rp 14.000 per kilogram kering
Ke depan, Pemkot Tarakan berencana membangun pusat pengolahan rumput laut skala kecil di kawasan Juata Laut. Fasilitas itu akan difokuskan pada produksi nori, kerupuk, dan dodol rumput laut yang bisa dipasarkan ke hotel dan restoran di Kalimantan Utara.