KALIMANTAN UTARA — Tim gabungan masih memerangi api yang membakar vegetasi savana, cemara gunung, pakis, dan semak belukar di kawasan konservasi TNBTS. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) Kementerian Kehutanan, titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang (medium confidence) terdeteksi melalui satelit NASA-MODIS pada Selasa (4/8), kemudian diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan sebelum operasi pemadaman dikerahkan.
Proses pemadaman terkendala medan yang curam dan perbukitan terjal. Vegetasi kering yang mudah terbakar serta keterbatasan sumber air memaksa tim melakukan distribusi air secara bertahap menggunakan truk tangki menuju titik-titik yang masih dapat dijangkau personel.
Penanganan kebakaran dilakukan secara terpadu oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) bersama Manggala Agni Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Dukungan datang dari TNI, Polri, BPBD Kabupaten Probolinggo, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta relawan.
Dalam operasi ini, BBTNBTS bertanggung jawab mengamankan kawasan konservasi, memetakan area terdampak, mengatur akses menuju lokasi kebakaran, serta melindungi keanekaragaman hayati. Sementara itu, Manggala Agni memimpin upaya teknis pemadaman untuk mengendalikan titik-titik api aktif agar tidak merambat ke wilayah lain.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, mengatakan strategi pemadaman terus disesuaikan dengan dinamika di lapangan. “Api masih aktif dan kondisi di lapangan terus berubah. Personel kami fokus pada sektor-sektor yang memiliki potensi rambatan tertinggi agar penyebaran api dapat ditekan secepat mungkin, dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel yang bertugas,” ujarnya.
Balai Besar TNBTS menutup sementara jalur wisata melalui pintu Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta pintu Senduro di Kabupaten Lumajang sejak 3 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB. Penutupan berlaku hingga waktu yang belum ditentukan.
Akses melalui Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo dan Wonokitri di Kabupaten Pasuruan masih dibuka secara terbatas hanya sampai kawasan Lautan Pasir. Adapun kawasan Savana ditutup sepenuhnya bagi seluruh pengunjung selama proses penanganan kebakaran berlangsung.
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menegaskan pengamanan kawasan dilakukan bersamaan dengan operasi pemadaman untuk memastikan keselamatan masyarakat serta menjaga area yang belum terdampak. “Keselamatan pengunjung menjadi prioritas kami. Penutupan sebagian akses dilakukan agar operasi pemadaman dapat berlangsung optimal sekaligus melindungi masyarakat dari potensi bahaya. Setelah kondisi dinyatakan aman, kami akan melakukan penilaian menyeluruh terhadap dampak kebakaran sebagai dasar penyusunan langkah pemulihan kawasan,” jelasnya.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan kebakaran di kawasan konservasi tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung pada fungsi lingkungan kawasan tersebut.
“Bromo bukan hanya destinasi wisata, tetapi kawasan konservasi yang menopang kehidupan masyarakat dan menjadi ruang hidup berbagai jenis tumbuhan serta satwa. Api harus segera dikendalikan, penyebabnya diungkap, dan kawasan dipulihkan. Masyarakat juga harus menjadi bagian dari pencegahan dengan menjaga aktivitas di sekitar kawasan dan segera melaporkan setiap tanda kebakaran,” tegas Dwi, Kamis (6/8).
Kementerian Kehutanan menyatakan penguatan sistem deteksi dini melalui SiPongi+, patroli lapangan, kesiapsiagaan personel, operasi terpadu lintas instansi, penyelidikan penyebab kebakaran, serta pelibatan masyarakat akan terus ditingkatkan. Langkah ini untuk memastikan setiap potensi kebakaran dapat dideteksi lebih awal, ditangani cepat, dan dicegah agar tidak berkembang menjadi kerusakan ekologis yang lebih luas.