TANJUNG SELOR — Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara mematangkan rencana pembangunan jaringan kereta api perdana di wilayah tersebut. Proyek infrastruktur masif ini bergulir setelah PT Indonesia Transit Synergy menawarkan skema investasi murni swasta melalui audiensi resmi kepada Pemprov Kaltara.
Direktur Utama PT Indonesia Transit Synergy, Rully Noviandar, menyebut nilai investasi pembangunan rel ini menembus angka Rp 20 triliun hingga Rp 25 triliun. Selain menguatkan konektivitas wilayah, proyek ini diklaim mampu menyerap sedikitnya 2.000 tenaga kerja lokal di Bumi Benuanta.
Rencana ini memicu diskusi publik terkait prioritas anggaran daerah. Namun, pegiat media sosial Syafaruddin Thalib (ST) menegaskan masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan pendanaan karena proyek ini sama sekali tidak menyentuh kantong negara.
“Ini bukan pemerintah tiba-tiba memprioritaskan kereta api. Ada investor datang menawarkan infrastruktur strategis tanpa membebani anggaran negara, ini harus dilihat sebagai peluang,” ujar Syafaruddin, Minggu (10/05/26).
Ia menilai sikap Gubernur Zainal A. Paliwang menyambut investor merupakan bentuk keberanian pemimpin mewujudkan visi besar. Pembangunan infrastruktur masif memang memerlukan proses panjang, namun langkah awal yang berani harus segera dimulai.
Kritik dari sejumlah pihak, termasuk komentar anggota DPR RI di media sosial, dianggap Syafaruddin sebagai dinamika wajar. Namun, ia menyayangkan jika kritik tersebut justru menyerang personal ketimbang menyentuh argumen teknis berbasis data.
“Pemimpin itu harus punya mimpi besar. Kalau tidak berani bermimpi, bagaimana daerah mau berkembang? Kritik seharusnya berbasis data dan argumentasi jelas, jangan malah terkesan nyinyir,” tegasnya.
Ia mendorong agar polemik digital tidak mengaburkan substansi peluang investasi yang masuk ke Kaltara. Kehadiran pihak swasta di sektor transportasi menjadi sinyal positif bagi penguatan iklim investasi daerah di masa depan.
Meski wacana kereta api bergulir, Pemprov Kaltara memastikan pembangunan infrastruktur dasar lainnya tidak terhenti. Syafaruddin menyebut komitmen Gubernur membuka akses wilayah terisolasi di perbatasan tetap menjadi prioritas utama yang berjalan beriringan.
“Jangan seolah-olah pemerintah hanya fokus ke kereta api. Perjuangan membangun jalan di wilayah perbatasan tetap berjalan,” katanya merujuk pada progres akses jalan menuju Krayan dan Malinau.
Syafaruddin menekankan bahwa setiap pembangunan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Fondasi yang diletakkan pemerintah saat ini diharapkan menjadi warisan pembangunan yang dapat dinikmati generasi mendatang di Kalimantan Utara.