TANJUNG SELOR — Kepala BPS Kaltara Mustaqim menyebut kenaikan harga sejumlah kebutuhan masyarakat, terutama komoditas pangan, sebagai pemicu tekanan inflasi Oktober. Data BPS menunjukkan inflasi Kaltara bergerak dari 2,00 persen pada Juli 2026 menjadi 2,17 persen di Agustus, lalu 2,56 persen pada September.
Cabai Rawit Sumbang Andil 0,66 Persen
Cabai rawit mencatat andil terbesar terhadap inflasi Oktober 2026 dengan angka 0,66 persen. Mustaqim menyampaikan hal itu dalam keterangan kepada wartawan di Tanjung Selor.
"Cabai rawit tercatat sebagai komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Oktober 2026 sebesar 0,66 persen," ujar Mustaqim, Selasa (3/11).
Selain cabai rawit, sejumlah komoditas lain turut menyumbang inflasi secara tahunan. Daftarnya mencakup tarif angkutan udara, emas perhiasan, beras, nasi dengan lauk, bensin, sepeda motor, minyak goreng, hingga tomat.
Nunukan Catat Inflasi Tertinggi, Disusul Tarakan dan Tanjung Selor
Tiga daerah pantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kaltara semuanya mengalami inflasi pada Oktober 2026. Nunukan menempati posisi tertinggi dengan 2,75 persen secara tahunan.
Tarakan menyusul di angka 2,70 persen, sementara Tanjung Selor mencatat inflasi 2,52 persen. Selisih antarwilayah itu menunjukkan tekanan harga tidak merata di tiga titik pantauan BPS.
Ikan Bandeng hingga Bawang Merah Justru Menahan Laju Inflasi
Sejumlah komoditas tercatat memberikan andil deflasi secara tahunan. Ikan bandeng, bayam, telur ayam ras, kangkung, sawi hijau, udang basah, daging ayam ras, dan ikan kembung masuk daftar itu.
Komoditas lain yang menahan laju inflasi meliputi sabun mandi, ikan cakalang, baju kaos tanpa kerah, perguruan tinggi, susu bubuk untuk balita, bawang merah, serta pembersih lantai. Kombinasi andil positif dan negatif ini menentukan angka inflasi akhir Kaltara.
Waspadai Pasokan Pangan ke Depan
Kondisi inflasi Oktober 2026 memperlihatkan perlunya kewaspadaan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga. Komoditas pangan dinilai paling berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat.
BPS Kaltara belum memerinci proyeksi inflasi bulan berikutnya. Namun tren tiga bulan terakhir menjadi indikasi awal bahwa tekanan harga pangan masih perlu dipantau, terutama di Nunukan yang konsisten mencatat angka tertinggi.