NUNUKAN — Praktik penimbangan bayi menggunakan timbangan dewasa di Puskesmas Nunukan memantik sorotan warga. Damaris Sampe, seorang pengunjung, melontarkan pertanyaan langsung soal kelengkapan alat kesehatan saat ditemui di lokasi.
Damaris menilai cara ini berisiko menghasilkan data yang tidak akurat. Ia mengaku terpaksa menggendong cucunya saat naik ke atas timbangan digital untuk mengetahui berat badan sang cucu.
“Masa Puskesmas tidak punya timbangan bayi, saya dan cucu ditimbang dengan timbangan digital orang dewasa, pasti hasilnya tidak sama,” ujarnya.
Akurasi Data Penimbangan Dipertanyakan Warga
Damaris menegaskan timbangan khusus bayi merupakan fasilitas dasar yang semestinya tersedia di puskesmas. Apalagi, layanan kesehatan tingkat pertama itu menjadi garda depan pemeriksaan ibu dan anak di wilayah Nunukan.
Ia berharap pihak Puskesmas maupun pemerintah daerah segera merespons keluhan ini. Ketersediaan sarana penunjang pelayanan dinilai krusial agar pemantauan pertumbuhan anak berjalan optimal.
Petugas Akui Sudah Ajukan Pengadaan, Terkendala Defisit Anggaran
Keluhan serupa datang dari internal petugas Puskesmas Nunukan. Mereka menyebut pengadaan timbangan anak sudah diusulkan, namun terkendala kondisi keuangan daerah.
“Kami berharap ada solusi. Kami sudah mengajukan, namun alasannya defisit. Jangan sampai masyarakat datang untuk memeriksakan kesehatan anak, tetapi alat yang dibutuhkan justru tidak tersedia,” ujar seorang petugas.
Perbedaan Hasil Timbang Antar Fasilitas Kesehatan Jadi Sorotan
Kepala Puskesmas Nunukan Handayan, melalui tim aduan Asriawan, mengakui perbedaan hasil penimbangan antara Posyandu, Puskesmas, dan rumah sakit kerap menjadi perhatian masyarakat. Ia menyebut kondisi bayi saat ditimbang menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan.
“Biasanya yang terjadi di lapangan memang ada kendala-kendala. Misalnya bayinya rewel, takut, atau dikhawatirkan jatuh. Itu memang ada perhitungannya,” jelas Asriawan.
Meski demikian, Asriawan enggan memberikan penjelasan teknis terkait prosedur penimbangan. Ia menilai hal tersebut merupakan ranah tenaga kesehatan yang lebih berkompeten, seperti petugas gizi.
“Kalau dari pengaduan, sebenarnya bukan profesi saya untuk menjelaskan hal seperti itu. Nanti ada ahlinya sendiri,” ujarnya.
Pemenuhan Alat Kesehatan Masih Menunggu Anggaran Baru
Soal ketersediaan fasilitas dan alat kesehatan, Asriawan menyebut pihaknya masih menunggu dukungan anggaran untuk pengadaan maupun pemenuhan kebutuhan tersebut.
“Kalau soal fasilitas dan persediaan alat-alat di Puskesmas itu kita tunggu anggaran baru. Kalau soal yang lain, kita ada dana-dana tertentu yang digunakan,” kata Asriawan.
Petugas Gizi: Hasil Timbang Posyandu dan Rumah Sakit Bisa Berbeda
Seha dari bagian Gizi Puskesmas Nunukan menjelaskan, perbedaan hasil penimbangan di Posyandu, Puskesmas, dan rumah sakit merupakan hal yang lumrah terjadi. Perbedaan tersebut muncul karena penggunaan alat timbangan yang berbeda di masing-masing fasilitas kesehatan.
Karena itu, hasil pengukuran perlu dilihat berdasarkan proses dan kondisi saat penimbangan, bukan hanya membandingkan angka yang tertera pada timbangan.