Pencarian

Kabut Asap Kiriman dari 3 Provinsi Hambat Pertumbuhan Awan Hujan di Kaltara, Ini Penjelasan BMKG

Selasa, 08 September 2026 • 11:01:32 WIB
Kabut Asap Kiriman dari 3 Provinsi Hambat Pertumbuhan Awan Hujan di Kaltara, Ini Penjelasan BMKG
Kabut asap menyelimuti wilayah Kalimantan Utara, Senin (8/9/2026).

TARAKAN — Fenomena kabut asap yang menyelimuti Kalimantan Utara (Kaltara) tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga memutus siklus pertumbuhan awan hujan. Kondisi ini menyebabkan sejumlah wilayah, termasuk Tarakan, minim curah hujan dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, menjelaskan bahwa partikel asap mengganggu proses kondensasi uap air laut menjadi bibit awan. Akibatnya, potensi hujan sulit terbentuk meski ketersediaan uap air sebenarnya ada.

Asap dari Kalteng, Kaltim, dan Kalsel Dominasi Langit Kaltara

"Jadi untuk bibit awan untuk saat ini ada. Namun volumenya tidak cukup untuk mencapai level jenuh hingga menjadi awan hujan. Keberadaan asap ini juga berpengaruh terhadap proses pertumbuhan bibit awan. Secara normal jika tidak ada asap proses pertumbuhan awan ini lebih lancar," jelas Sulam Khilmi, Senin (8/9/2026).

Sulam menambahkan, sebagian besar asap yang menyelimuti Kaltara merupakan kiriman dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Polusi udara lintas provinsi ini berkaitan erat dengan munculnya titik panas (hotspot) akibat kemarau panjang.

Siklus Karhutla yang Sulit Diputus

Ia mengungkapkan, kondisi ini membentuk siklus yang saling terkait. Ketiadaan hujan memicu kekeringan dan kebakaran lahan, kemudian asap yang dihasilkan justru menghambat terbentuknya awan hujan baru.

"Karena tidak ada hujan muncullah hotspot. Karena hotspot kemudian banyak asap. Asap juga mempengaruhi pertumbuhan awan. Jadi menjadi sebuah siklus yang sulit diputus sementara ini," ungkap Sulam Khilmi.

Imbauan BMKG untuk Warga Kaltara

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap penurunan kualitas udara serta terus memantau informasi cuaca terbaru dari kanal resmi. Warga dengan gangguan pernapasan disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap pekat.

Pihaknya juga meminta pemerintah daerah setempat dan masyarakat memperkuat upaya pencegahan karhutla, mengingat potensi asap masih akan bertahan selama musim kemarau berlangsung.

Follow faktakaltara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks