KALIMANTAN UTARA — Kondisi pasar keuangan yang fluktuatif membuat perusahaan asuransi jiwa harus lebih selektif dalam mengelola portofolionya. Ciputra Life merespons situasi ini dengan mengarahkan strategi investasi ke instrumen berpendapatan tetap yang dinilai masih menawarkan imbal hasil menarik.
Peluang di Instrumen Pendapatan Tetap
Direktur Utama Ciputra Life Hengky Djojosantoso menyatakan instrumen pendapatan tetap masih punya daya tarik, terutama SBN dan obligasi korporasi dengan kualitas kredit baik. Level yield yang relatif kompetitif menjadi pertimbangan utama perseroan melakukan penempatan secara selektif.
"Dengan level yield yang masih relatif menarik, kami melihat peluang untuk melakukan penempatan secara selektif, sekaligus menjaga kesesuaian antara karakteristik aset dengan profil liabilitas perusahaan," ujarnya kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).
Dana kelolaan yang ditempatkan di SBN mencapai Rp 644,91 miliar berdasarkan laporan keuangan periode Semester I-2026 sesuai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 104. Porsi ini menjadi komponen dominan dalam portofolio perseroan.
Selektif di Pasar Saham
Untuk alokasi ke instrumen ekuitas, manajemen tetap melihat peluang pertumbuhan meskipun porsinya lebih kecil dibanding obligasi negara. Nilai investasi saham Ciputra Life tercatat Rp 103,51 miliar pada periode yang sama.
Hengky menegaskan pendekatan yang dipakai tidak sekadar mengejar momentum pasar. Fokus utama tetap pada emiten yang memiliki fundamental solid dan prospek bisnis jangka panjang yang jelas.
"Bukan semata-mata mengejar momentum pasar," tuturnya.
Komposisi Portofolio dan Prinsip Kehati-hatian
Strategi investasi Ciputra Life hingga akhir tahun mengedepankan pengelolaan portofolio yang prudent dan berorientasi jangka panjang. Keputusan penempatan aset tidak hanya berbasis potensi return, tetapi juga mempertimbangkan sejumlah aspek risiko berikut:
- Kualitas aset dan risiko kredit penerbit
- Durasi aset yang disesuaikan dengan profil liabilitas
- Tingkat likuiditas instrumen
- Kesesuaian dengan kewajiban pembayaran klaim kepada pemegang polis
BI Rate yang ditahan di 5,75% menjadi konteks penting bagi industri asuransi dalam menyusun alokasi aset. Keputusan bank sentral tersebut mempengaruhi arah imbal hasil obligasi pemerintah dan korporasi hingga pengujung tahun.
Menurut Hengky, pendekatan menyeluruh ini diharapkan mampu menghasilkan risk-adjusted return yang sehat dan berkelanjutan bagi perusahaan maupun pemegang polis.
"Dengan pendekatan tersebut, kami berharap dapat menghasilkan risk-adjusted return yang sehat dan berkelanjutan," ungkapnya.