Pencarian

Penjualan Mobil Listrik Murni Tembus 83.758 Unit hingga Juli 2026, Kini Lampaui LCGC

Rabu, 02 September 2026 • 11:13:01 WIB
Penjualan Mobil Listrik Murni Tembus 83.758 Unit hingga Juli 2026, Kini Lampaui LCGC
Penjualan mobil listrik murni (BEV) nasional mencapai 83.758 unit hingga Juli 2026, melampaui penjualan LCGC yang tercatat 64.633 unit.

KALIMANTAN UTARA — Sejak 2022, struktur pasar otomotif nasional bergeser signifikan. Data wholesales Gaikindo yang dirilis pekan ini menempatkan kendaraan listrik sebagai pendorong utama perubahan. Penjualan BEV yang menyentuh 83.758 unit tumbuh 88,6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu, sekaligus mengungguli LCGC yang selama ini menjadi tulang punggung pasar mobil murah.

BEV Lampaui LCGC dalam Tujuh Bulan

Perbandingan langsung kedua segmen ini menjadi sinyal kuat pergeseran preferensi. LCGC, yang dulu diandalkan karena harga terjangkau dan irit bahan bakar, justru mencatat penurunan 16,5 persen menjadi 64.633 unit. Sementara BEV, dengan insentif dan biaya operasional rendah, berhasil merebut posisi tersebut dalam waktu singkat.

Pilihan mobil listrik di pasaran kian beragam, mulai dari city car hingga SUV. Rentang harganya pun mulai menyentuh kelas menengah. Wuling, BYD, dan Hyundai gencar meluncurkan model anyar sepanjang 2025 hingga 2026.

PHEV dan Hybrid: Dua Kaki Elektrifikasi yang Ikut Menguat

Teknologi hybrid dan plug-in hybrid (PHEV) juga mencatatkan performa impresif. Distribusi mobil hybrid mencapai 50.138 unit, naik 42,9 persen secara tahunan. Adapun PHEV melonjak 234,7 persen menjadi 6.988 unit, dari sebelumnya hanya 2.088 unit.

Pertumbuhan PHEV mencerminkan strategi konsumen mencari jalan tengah. Mereka bisa merasakan sensasi berkendara listrik tanpa khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan. Mesin bensin tetap tersedia sebagai cadangan, sementara motor listrik menekan konsumsi bahan bakar di perkotaan.

Jika digabung, penjualan BEV dan hybrid saja sudah menembus 133 ribu unit dalam tujuh bulan pertama 2026. Angka itu belum termasuk kontribusi PHEV yang terus bertambah.

Mengapa Konsumen Mulai Beralih?

Keputusan berpindah dari mobil konvensional ke kendaraan elektrifikasi muncul karena beberapa alasan. Biaya operasional menjadi pertimbangan utama. Tarif listrik per kilometer jauh lebih rendah dibanding harga bensin, ditambah insentif pajak dan kemudahan regulasi untuk BEV.

Mobil hybrid menawarkan efisiensi tanpa bergantung pada infrastruktur pengisian daya yang masih terbatas. Konsumen cukup mengisi bensin seperti biasa, tetapi konsumsinya jauh lebih sedikit. Kombinasi ini membuat segmen hybrid tetap relevan bagi mereka yang belum siap sepenuhnya beralih ke BEV.

Pilihan model yang semakin luas juga berperan besar. Hampir setiap produsen kini memiliki lini kendaraan elektrifikasi. Harganya pun semakin kompetitif, mendekati mobil bensin setara.

Penyusutan Mobil Konvensional: Data ICE 2022-2025

Kondisi ini berbanding terbalik dengan nasib kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE). Di luar segmen LCGC, data Gaikindo menunjukkan penjualan mobil ICE terus merosot dalam empat tahun terakhir. Pada 2022 volumenya masih 869.153 unit, kemudian turun ke 729.739 unit pada 2023, dan anjlok lagi menjadi 585.729 unit di 2024.

Tren ini mencapai titik terendah pada 2025 dengan total penjualan hanya 505.857 unit. Artinya, pasar mobil konvensional telah menyusut sekitar 41,8 persen selama 2022-2025. Meski masih mendominasi pangsa pasar secara keseluruhan, laju penurunan ini menjadi peringatan jelas bagi produsen yang belum serius menggarap segmen elektrifikasi.

Arah Pasar Otomotif ke Depan

Belum bisa dipastikan seluruh penurunan penjualan mobil bensin berpindah ke kendaraan listrik. Namun, dua tren yang berjalan bersamaan — elektrifikasi naik, ICE menyusut — menunjukkan pertimbangan konsumen Indonesia telah berubah. Harga beli bukan lagi satu-satunya faktor; efisiensi energi, biaya perawatan, dan nilai jual kembali kini ikut dipertimbangkan.

Jika pola ini berlanjut, persaingan industri otomotif nasional akan bertumpu pada siapa yang mampu menawarkan teknologi elektrifikasi paling matang dengan harga paling masuk akal. Pasar sudah memberikan sinyal; produsen tinggal memutuskan apakah akan beradaptasi atau tertinggal.

Follow faktakaltara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: wartaekonomi.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks