Pencarian

Tenun D'utan Tembus Pasar Jakarta hingga Malaysia, Motif Kaltara Jadi Andalan UMKM Tarakan

Kamis, 27 Agustus 2026 • 01:00:01 WIB
Tenun D'utan Tembus Pasar Jakarta hingga Malaysia, Motif Kaltara Jadi Andalan UMKM Tarakan
Mersia merapikan helaian benang tenun bermotif khas Kalimantan Utara di rumah produksinya di Tarakan.

TARAKAN — Dari sebuah rumah di Tarakan, Kalimantan Utara, jemari Mersia bergerak lincah menata benang demi benang. Aktivitas yang tampak sederhana itu kini telah bertransformasi menjadi usaha tenun yang produknya menembus pasar Jakarta hingga Malaysia. Tenun D'utan, nama usahanya, bukan sekadar bisnis, melainkan upaya mengangkat identitas daerah ke kancah yang lebih luas.

Perjalanan usaha ini tidak dimulai dengan kemudahan. Mersia, pemilik Tenun D'utan, mengaku ketertarikannya pada dunia menenun berawal setelah ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Peluang pengembangan kerajinan tenun di Kalimantan Utara yang masih terbuka lebar mendorongnya untuk mencoba peruntungan.

Awalnya, ia membawa motif dari daerah asalnya, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, arah usaha ini berubah total setelah Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Perindagkop dan UMKM) memberikan satu masukan krusial: tenun yang dibuat sebaiknya mengangkat identitas Kalimantan Utara.

Dari Motif Flores ke Identitas Kaltara

Masukan dari pemerintah daerah itu menjadi titik balik. Mersia mulai mengembangkan motif-motif lokal khas Kalimantan Utara. Perlahan, produknya pun mendapat respons positif dari masyarakat. Tenun yang tadinya bernuansa NTT, kini memiliki karakter dan ciri khas sendiri yang lebih membumi di Kalimantan Utara.

Dukungan mengalir dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), dan Bank Indonesia Kalimantan Utara membuka jalan bagi Tenun D'utan untuk mengikuti pameran dan program pembinaan. Bagi Mersia, pameran adalah ruang penting untuk membaca selera pasar dan memperkenalkan produk ke audiens yang lebih luas.

Adaptasi dan Inovasi di Tengah Tantangan Bahan Baku

Meski berkembang, usaha ini tidak luput dari rintangan. Bahan baku utama, yakni benang, masih harus didatangkan dari luar daerah, terutama dari Pulau Jawa. Ketika pasokan atau pengiriman terkendala, proses produksi ikut terganggu. Tantangan lain yang tak kalah berat adalah menjaga kualitas, mencari tenaga terampil, hingga memperluas jaringan pemasaran.

Alih-alih berhenti, Tenun D'utan justru beradaptasi. Motif khas Kalimantan Utara tetap dipertahankan sebagai identitas, tetapi desain, warna, dan model terus dikembangkan mengikuti zaman. Pewarnaan alami mulai diadopsi dengan memanfaatkan bahan-bahan dari hutan Kalimantan Utara.

Kain tenun tidak lagi dipandang sebagai produk akhir. Inovasi pun lahir dengan mengubah kain menjadi produk turunan seperti tas, sepatu, dan item fashion lainnya. Strategi ini dinilai mampu meningkatkan nilai jual dan membuka lebih banyak peluang pasar.

Digitalisasi dan Dampak Sosial bagi Perempuan

Pemasaran pun berubah. Jika dulu mengandalkan cerita dari mulut ke mulut, kini media sosial dan marketplace menjadi pintu masuk utama. WhatsApp menjadi salah satu andalan untuk memperkenalkan produk, sementara produk fisik dipajang di UMKM Center agar bisa dilihat langsung masyarakat.

Perjalanan ini menunjukkan bahwa digitalisasi bagi UMKM bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Lebih dari itu, media digital menjadi jembatan yang mempertemukan produk lokal dengan konsumen yang sebelumnya sulit dijangkau.

Namun, pertumbuhan usaha ini tidak hanya diukur dari jarak jangkauan produk. Di balik setiap helai kain, ada penenun yang menggantungkan hidup. Saat ini, usaha yang dijalankan secara mandiri melibatkan dua hingga tiga orang dalam proses produksi. Dalam kelompok yang lebih luas, Tenun D'utan juga melibatkan penenun lokal, terutama perempuan, yang mendapatkan kesempatan memperoleh penghasilan dari keterampilan mereka.

Bagi keluarga Mersia, usaha ini membawa perubahan signifikan. Dari seorang ibu rumah tangga, aktivitas menenun berkembang menjadi sumber penghasilan yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak.

"Tenun bukan hanya sebuah usaha, tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang membantu kehidupan keluarga," ujarnya.

Di titik ini, kain tenun memiliki cerita yang lebih panjang dari sekadar motif dan warna. Ia menjadi sumber penghasilan bagi keluarga, membuka kesempatan kerja bagi perempuan, sekaligus membawa identitas Kalimantan Utara ke tempat yang lebih jauh.

Follow faktakaltara.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: benuanta.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks