TARAKAN — Di balik kesederhanaan kawasan pesisir Kelurahan Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara, lembaran ikan kering tipis yang renyah bak kerupuk diproduksi secara berkelanjutan. Usaha yang meneruskan jejak almarhum orang tua Siti Halijah ini tak hanya merawat tradisi bahari, tetapi juga menjadi simpul penting penggerak roda ekonomi warga.
Bersama sang suami yang sehari-hari melaut, Siti mengolah hasil tangkapan ikan Pepija atau Nomei—komoditas perikanan khas Tarakan bertekstur lembut—menjadi produk bernilai jual tinggi. Usaha yang berlokasi di Jalan Kurau RT 15 ini juga menampung hasil laut dari nelayan sekitar dengan harga Rp100.000 per kilogram bahan mentah.
Dilema Nelayan: Tangkapan Melimpah, Harga Justru Anjlok
Siti menyoroti dilema klasik yang kerap menjepit nasib nelayan pesisir. Posisi tawar nelayan kerap lemah akibat permainan harga oleh pengumpul besar saat pasokan melimpah.
"Secara logika nelayan bisa kaya karena tangkapan banyak. Tapi kenyataannya sulit karena saat ikan melimpah, pengumpul besar langsung menurunkan harga semau mereka. Mau tidak dijual, barang cepat busuk karena sifatnya perishable. Nelayan sering mengeluh karena hasil penjualan tak menutup operasional solar. Yang mengambil keuntungan utuh itu pedagang besar atau toko-toko di atas," ungkap Siti terus terang.
Proses Produksi: Es Semalaman Jadi Kunci Kualitas
Mengolah ikan Pepija menjadi ikan kering tipis membutuhkan keterampilan teknis serta kesabaran ekstra. Pembelahan dilakukan secara manual menggunakan pisau tajam untuk membuang bagian kepala dan membelah daging ikan menjadi tipis memanjang tanpa merusaknya.
Urutan waktu penjemuran memegang peranan vital. Ikan segar yang tiba di siang atau sore hari harus segera diberi es, dicuci bersih, lalu dibelah dan dicuci kembali. Setelah itu, lembaran ikan wajib diberi es lagi dan didiamkan selama satu malam sebelum dijemur keesokan harinya.
"Ikan tidak bisa langsung dijemur begitu selesai dibelah di sore hari, nanti malah rusak. Harus didiamkan di es semalaman, baru besok paginya dijemur saat ada terik matahari," jelas Siti.
Lembaran tipis transparan tersebut kemudian ditata di atas wadah penjemuran berbahan rajutan bambu atau jaring kayu ukuran 1×2 meter. Puluhan penjemuran itu berjejer di lokasi penjemuran di atas laut seluas 10×20 meter. Di bawah terik matahari, proses penjemuran memakan waktu 1 hingga 1,5 hari untuk mencapai tingkat kekeringan 80 hingga 100 persen.
Tantangan Cuaca dan Fasilitas Pendingin
Penyusutan bobot bahan baku sangat tinggi, di mana 11 kilogram ikan Pepija basah hanya menghasilkan 1 kilogram ikan kering tipis. Tantangan utama operasional bersumber dari cuaca dan fasilitas penampungan pascapanen. Cuaca hujan atau mendung membuat penjemuran tertunda dan berisiko merusak kualitas ikan.
"Kapasitas freezer kami di sini paling banyak hanya mampu menampung 200 kilogram. Kalau pas panen melimpah sampai 1 ton, kami kesulitan karena belum ada fasilitas ruangan pendingin (cold room) yang besar," tambahnya.
Prinsip Mandiri: Keuntungan Diputar untuk Modal
Meski diperhadapkan pada keterbatasan modal, Siti memiliki prinsip pengelolaan keuangan usaha yang disiplin. Berbekal omset bersih rata-rata Rp5 juta hingga Rp8 juta per bulan, ibu dua anak ini secara bertahap menyisihkan setiap keuntungan untuk diputar kembali sebagai modal pengembangan usaha.
Semangat mandiri ini dibuktikannya dengan terus membenahi infrastruktur produksi secara perlahan. Dari uang yang disisihkan, Siti mampu membeli tambahan peralatan operasional seperti mesin pendingin, membangun tempat penjemuran baru, dan mendirikan kios usaha mandiri sebagai sarana penjualan produk olahannya secara langsung.