KALIMANTAN UTARA — Kuil Yasukuni, yang didirikan pada 1869 di era Kaisar Meiji, mendedikasikan tempatnya bagi sekitar 2,5 juta jiwa yang tewas dalam berbagai perang yang melibatkan Jepang, termasuk 14 penjahat perang kelas A yang dihukum pengadilan internasional pasca-1945. Bagi sebagian besar warga Jepang, kuil ini adalah tempat ziarah untuk menghormati arwah pahlawan perang. Namun bagi negara-negara Asia yang pernah dijajah atau diduduki Jepang, tempat ini adalah pengingat akan kekejaman masa lalu yang belum sepenuhnya diakui.
Posisi Perdana Menteri Takaichi: Menghormati dari Kejauhan
Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang sebelumnya rutin mengunjungi kuil sebelum menjabat pada Oktober, tidak hadir secara langsung dalam peringatan tahun ini. Media lokal melaporkan ia memberi penghormatan dari tempat parkir sekitar 200 meter dari gerbang kuil, melakukan dua kali membungkuk, dua kali bertepuk tangan, dan sekali membungkuk lagi ke arah kuil. Ia juga mengirimkan persembahan ritual, sebuah praktik yang lazim dilakukan para perdana menteri sebelumnya.
“Tujuan saya adalah menciptakan lingkungan untuk mendapatkan pengertian dari sekutu dan negara tetangga,” kata Takaichi kepada wartawan pada Februari lalu, seperti dikutip Japan Times. Namun, menurut laporan Associated Press, ia tidak menyebut kekejaman perang Jepang atau menyatakan penyesalan dalam pernyataannya.
Kecaman Beijing dan Seoul atas Simbol Imperialisme
Kementerian Luar Negeri China pada Sabtu menyatakan "sangat mengutuk" persembahan Takaichi dan kunjungan Koizumi, serta mengatakan telah menyampaikan protes keras kepada pihak Jepang. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyampaikan "penyesalan mendalam" atas tindakan "anakronistis" para pemimpin Jepang tersebut, dan mendesak Tokyo untuk menghadapi sejarah serta menunjukkan "refleksi rendah hati dan penyesalan tulus" melalui tindakan nyata.
Kontroversi seputar kuil ini menguat sejak 1978, ketika 14 pemimpin sipil dan militer Jepang yang dihukum pengadilan militer Sekutu setelah kekalahan 1945—dikenal sebagai "Penjahat Perang Kelas A"—secara resmi disemayamkan di sana. Sebelum periode tersebut, kunjungan pejabat tinggi Jepang ke Yasukuni jarang memicu reaksi diplomatik besar.
Riwayat Kunjungan Perdana Menteri dan Respons Global
Yasuhiro Nakasone menjadi perdana menteri pertama yang memberi penghormatan di kuil pada 1985. Junichiro Koizumi, yang menjabat 2001–2006, tercatat sebagai pengunjung paling sering. Shinzo Abe adalah perdana menteri terakhir yang mengunjungi kuil saat masih menjabat pada Desember 2013—langkah yang memicu kekecewaan resmi dari pemerintahan Presiden AS saat itu, Barack Obama.
Para pejabat Jepang yang berkunjung kerap membela diri dengan menyatakan tindakan tersebut dilakukan dalam kapasitas pribadi untuk menghormati arwah tentara yang gugur. Menteri Pertahanan Koizumi, putra dari mantan Perdana Menteri Junichiro Koizumi, menyampaikan hal serupa kepada wartawan usai kunjungannya, seraya menegaskan komitmen Jepang untuk menolak perang.
Bagi Jepang yang menganut pasifisme sejak menyerah pada 1945, kunjungan ke Yasukuni adalah hak untuk mengenang warga yang tewas. Namun bagi Beijing, Seoul, Pyongyang, dan Taipei, langkah tersebut dianggap sebagai kegagalan Tokyo untuk bertobat atas pendudukan brutal yang menewaskan jutaan orang di Asia sebelum dan selama Perang Dunia II.