TARAKAN — Kebiasaan sarapan bergizi pada anak-anak Indonesia masih jauh dari kata ideal. Data terbaru dari Studi SEANUTS II yang dirilis pada tahun 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 33 persen anak usia 2 hingga 12 tahun yang mendapatkan asupan energi dan nutrisi yang cukup saat sarapan. Temuan ini menjadi alarm bagi para orang tua di Kalimantan Utara untuk lebih serius memperhatikan menu pagi anak-anak mereka.
Temuan ini diperkuat oleh data Survei Diet Total Kementerian Kesehatan RI tahun 2020. Survei tersebut mencatat hampir setengah dari anak Indonesia belum memperoleh energi yang cukup dari menu sarapan mereka. Lebih memprihatinkan lagi, mayoritas anak-anak mengonsumsi sarapan dengan kualitas gizi yang belum optimal, alias sekadar kenyang tanpa kandungan nutrisi yang memadai.
Dampak Sarapan Tidak Bergizi pada Anak
Dokter Spesialis Anak, dr. Ahmad Hafidz, menilai bahwa pembiasaan sarapan sehat harus ditanamkan sejak usia dini. Menurutnya, sarapan berperan krusial sebagai sumber energi awal yang membantu anak menjalani aktivitas sepanjang hari. Tanpa asupan yang cukup, konsentrasi anak saat belajar di sekolah bisa terganggu.
"Asupan yang cukup di pagi hari dapat mendukung konsentrasi saat belajar, meningkatkan semangat bergerak, serta membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak secara lebih baik," jelas dr. Hafidz. Ia menambahkan bahwa dampak jangka panjang dari sarapan buruk bisa mempengaruhi prestasi akademik dan kesehatan fisik anak.
Edukasi Gizi untuk Orang Tua di Kalimantan Utara
Pentingnya sarapan bergizi juga menjadi fokus dalam kampanye "Sereal Super untuk Anak Super" yang digelar di Bandung. Senior General Manager Marketing Health & Wellness Combiphar, Felicia Stefanie, menekankan bahwa setiap anak memiliki potensi dan keunggulan yang berbeda. Dukungan dari orang tua, terutama dalam pemenuhan nutrisi sejak pagi hari, menjadi faktor kunci.
"Sarapan yang tepat dapat membantu anak memulai hari dengan kondisi fisik dan mental yang lebih siap untuk belajar, bermain, serta mengeksplorasi kemampuan yang dimiliki," ujar Felicia. Kampanye ini mengajak masyarakat untuk tidak hanya menyediakan makanan yang mengenyangkan, tetapi juga kaya nutrisi untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Orang tua di Kalimantan Utara diimbau untuk mulai membiasakan anak dengan menu sarapan yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, dan vitamin. Kebiasaan ini dinilai sebagai investasi jangka panjang bagi kesehatan dan kecerdasan generasi penerus daerah.