TANA TIDUNG — Selama ini, hasil panen tambak di Desa Bebatu langsung dijual ke pasar tanpa diolah lebih dulu. Kondisi itu membuat nilai ekonominya rendah dan jangkauan pemasarannya terbatas, hanya sampai ke wilayah desa dan kabupaten.
Pelatihan yang digelar melalui Sekolah Lapang Livelihood ini mengajarkan teknik pembuatan petis udang, standar kebersihan produksi, pengemasan higienis, hingga dasar-dasar keamanan pangan. Peserta juga mendapat materi pelabelan produk agar siap bersaing di pasar yang lebih luas.
Mengapa Perempuan Pesisir Jadi Sasaran Utama?
Ketua KWT Bina Baru Rukiah mengatakan, pelatihan ini membuka wawasan bahwa hasil tambak tidak harus selalu dijual sebagai bahan mentah. "Selama ini distribusi produk kami hanya menjangkau wilayah Desa Bebatu dan kabupaten. Ke depan, kami berharap ada keberlanjutan agar dapat semakin mendorong perekonomian ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok kami," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026).
Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Bebatu Sri Kamariah menambahkan, pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal menjadi alternatif penting di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan di desa. Ia menilai perempuan memiliki peran sentral dalam menopang ekonomi keluarga, sehingga pemerintah desa terus mendukung kelompok masyarakat melalui pendampingan, termasuk penyusunan proposal dan program pemberdayaan.
Silvofishery: Tambak yang Ramah Mangrove
Desa Bebatu menerapkan sistem silvofishery, yaitu model budidaya tambak yang dipadukan dengan pelestarian mangrove. Pendekatan ini memungkinkan aktivitas ekonomi berjalan tanpa mengabaikan fungsi ekologis kawasan pesisir.
PPIU Manager Kalimantan Utara Program M4CR Akhmad Ashar Sarif mengatakan, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari meningkatnya kualitas ekosistem, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan. "Ketika ekosistem mangrove tetap terjaga melalui penerapan silvofishery, sementara perempuan memperoleh kesempatan meningkatkan kapasitas dan mengembangkan produk olahan, maka terbentuk fondasi yang lebih kuat bagi terwujudnya ekonomi pesisir yang tangguh dan berkelanjutan," ujar Sarif.
Dampak Langsung bagi Warga
Dengan keterampilan baru ini, kelompok perempuan pesisir di Tana Tidung tak lagi bergantung pada tengkulak atau pasar tradisional semata. Produk olahan seperti petis udang berpeluang menembus pasar kabupaten hingga luar daerah, sekaligus menjaga ekosistem mangrove tetap lestari.
Program M4CR sendiri merupakan komitmen Kementerian Kehutanan untuk menghubungkan rehabilitasi mangrove dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Pelatihan ini menjadi salah satu bukti bahwa konservasi dan ekonomi bisa berjalan beriringan.