TANJUNG SELOR — Sekretaris Daerah Provinsi Kaltara H. Denny Harianto mengatakan program SINERGI Kaltara dirancang sebagai jembatan agar UMKM lokal bisa masuk ke rantai pasok kawasan industri. Gagasan ini diperkenalkan dalam Forum Group Discussion (FGD) di Kantor Gubernur Kaltara, Rabu (8/7).
Denny menyebut masih ada sekitar 51.840 pelaku UMKM di Kaltara yang belum terhubung dengan ekosistem industri. Padahal, Kawasan Industri Tanah Kuning seluas 10.100 hektare telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Investasi Naik 160 Persen, Tapi Manfaat Belum Merata
Data yang dipaparkan Denny menunjukkan nilai investasi di Kaltara melonjak dari Rp11,79 triliun pada 2024 menjadi Rp30,64 triliun pada 2025. Artinya, terjadi kenaikan sekitar 160 persen dalam setahun.
Namun, pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita hanya sekitar 3,2 persen. “Artinya, pertumbuhan investasi yang tinggi belum sepenuhnya menghasilkan manfaat ekonomi yang merata bagi masyarakat,” ujar Denny.
Ancaman Enclave Economy Jika UMKM Tak Dilibatkan
Denny memperingatkan risiko yang mengintai jika persoalan ini dibiarkan. Menurutnya, kebutuhan industri yang lebih banyak dipenuhi dari luar daerah akan menyebabkan kebocoran ekonomi dan memperlebar kesenjangan sosial.
“Bahkan kita bisa menghadapi enclave economy, ketika investasi besar hadir tetapi manfaatnya hanya sedikit dirasakan masyarakat sekitar,” tegasnya.
Ia menambahkan, kondisi ini juga berpotensi melemahkan daya saing UMKM, menghambat program hilirisasi nasional, hingga menurunkan daya tarik investasi jangka panjang. Sebab, investor akan melihat rendahnya penerapan prinsip keberlanjutan melalui pelibatan pelaku usaha lokal.
SINERGI Kaltara: Bukan Hanya Soal Angka Investasi
Melalui program ini, Pemprov Kaltara berharap UMKM lokal mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi standar kebutuhan industri. SINERGI Kaltara akan menjadi sistem integrasi nilai ekonomi yang menghubungkan rantai global industri dengan pelaku usaha di daerah.
“Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat. Itu yang ingin kita wujudkan melalui SINERGI Kaltara,” pungkas Denny.