KALIMANTAN UTARA — Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 Juli tahun ini. Anggaran sebesar Rp 28,8 triliun tersebut tidak hanya dipakai untuk subsidi pembelian, tetapi juga untuk membangun infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik di ibu kota India.
Insentif untuk Skuter dan Sepeda Motor Listrik
Pembeli skuter dan motor listrik di New Delhi juga mendapat subsidi tunai. Pada tahun pertama kebijakan, mereka menerima 30.000 rupee atau sekitar Rp 5,7 juta. Angka itu kemudian turun menjadi 10.000 rupee di tahun ketiga program berjalan.
Selain subsidi tunai, kendaraan listrik murni dengan harga di bawah 3 juta rupee dibebaskan dari pajak jalan dan biaya pendaftaran. Padahal, biaya tersebut biasanya mencapai 4-10 persen dari harga kendaraan.
Langkah Berani: Henti Registrasi Kendaraan Bensin pada 2027
New Delhi berencana menerbitkan pelat nomor baru hanya untuk minivan dan becak listrik mulai 2027. Setahun berselang, giliran skuter dan sepeda motor listrik yang mendapat prioritas. Artinya, registrasi versi baru kendaraan bermesin bensin untuk kategori tersebut akan dihentikan.
Target ambisiusnya, setidaknya 30 persen kendaraan di New Delhi sudah bertenaga listrik pada 2030. Saat ini, sepeda motor dan becak—yang mayoritas menggunakan bensin dan bahan bakar fosil terkompresi—mencakup lebih dari dua pertiga dari puluhan juta kendaraan di jalanan kota tersebut.
Polusi Udara: Mengapa Kendaraan Listrik Bukan Solusi Tunggal
Emisi kendaraan menyumbang rata-rata 23 persen dari polutan udara kota, menjadikan transportasi sebagai sumber emisi terbesar. Namun, para pegiat lingkungan mengingatkan bahwa kendaraan listrik hanya mengatasi sebagian kecil dari krisis polusi yang jauh lebih luas.
Bhavreen Kandhari, pendiri organisasi lingkungan Warrior, menegaskan bahwa listrik itu penting, tetapi kendaraan listrik bukan solusi ajaib. “Selain kendaraan listrik, perjalanan yang ramah lingkungan juga mencakup metro, bus, sepeda, atau berjalan kaki,” ujarnya kepada Independent.
Jaringan Listrik Masih Bergantung pada Batu Bara
Masalah lain yang dihadapi adalah jaringan listrik New Delhi yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Artinya, manfaat iklim dan kesehatan dari kendaraan listrik baru akan terwujud penuh jika sektor energi juga mengurangi emisi karbonnya.
Transportasi hanyalah satu dari banyak sumber utama polusi udara di kota ini. Debu konstruksi, pembakaran sampah, emisi industri, generator diesel, dan pembakaran lahan pertanian dari negara bagian tetangga ikut memperparah kondisi.
New Delhi kembali menduduki peringkat pertama kota besar paling tercemar di dunia versi IQ Air pada 2025. Situasi memburuk drastis saat musim dingin, ketika indeks kualitas udara (AQI) kerap melampaui angka 500—padahal skala 0-50 sudah dianggap baik.