TANJUNG SELOR — BPS Kaltara menerapkan strategi khusus untuk menjangkau daerah-daerah terpencil yang tidak tersentuh jaringan telepon seluler. Petugas sensus di lapangan dibekali aplikasi yang bisa berfungsi penuh tanpa internet. Mereka melakukan wawancara dan memasukkan data secara luring sepanjang hari, bahkan hingga dua-tiga hari berturut-turut.
Petugas Kumpulkan Data Berhari-Hari, Baru Cari Sinyal untuk Unggah
“Mode pendataan yang kita gunakan memang dengan aplikasi di telepon seluler. Nah untuk mendapatkan datanya, mereka tidak perlu dengan internet dulu, mereka bisa pakai mode offline dulu,” ujar Mustaqim di Tanjung Selor, Jumat.
Setelah data terkumpul, petugas harus kembali ke titik-titik yang memiliki fasilitas sinyal—bisa di kantor kecamatan, kantor desa, atau wilayah lain yang terjangkau jaringan. “Mereka wawancara, mereka dapatkan datanya, baru mereka unggah ketika sudah mendapatkan sinyal,” jelasnya.
Akibatnya, pengiriman data dari pedalaman mengalami jeda satu hingga dua hari, berbeda dengan wilayah perkotaan yang bisa mengunggah secara langsung. Kepala BPS menambahkan, data riil dari daerah-daerah remote itu sudah mulai masuk, meskipun volumenya belum signifikan dibandingkan data dari perkotaan.
Desa Apau Ping di Ujung Sungai Bahau Sudah Didatangi
Kepala BPS Kabupaten Malinau, Yanuar Dwi Cristyawan, melaporkan bahwa pendataan sensus ekonomi sudah dimulai sejak 15 Juni lalu. Targetnya mencakup 109 desa dan 15 kecamatan di Kabupaten Malinau. Salah satu lokasi paling terpencil yang sudah didatangi petugas adalah Desa Apau Ping di Kecamatan Bahau Hulu, yang berada di ujung Sungai Bahau.
“Biasanya kalau sudah selesai bisa ke kantor kecamatan atau desa yang memiliki jaringan internet atau wilayahnya yang ada jaringan telepon seluler,” kata Yanuar. Kendala utama di lapangan memang keterbatasan sinyal, sehingga pengunggahan data secara langsung tidak bisa dilakukan.
Dukungan Pemerintah Desa Jadi Kunci Kelancaran Sensus
Mustaqim mengakui bahwa tanpa dukungan dari pemerintah kabupaten, kecamatan, hingga desa setempat, sensus di wilayah perbatasan dan pedalaman akan sulit berjalan. Kerja sama itu memungkinkan petugas untuk mengakses lokasi-lokasi terpencil dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Sensus Ekonomi 2026 bertujuan memotret kondisi perekonomian daerah secara menyeluruh, termasuk sektor informal dan usaha mikro di pelosok. Data dari pedalaman dan perbatasan Kaltara menjadi krusial untuk perencanaan pembangunan yang merata, terutama di daerah yang selama ini minim data ekonomi riil.