Pencarian

Harga Emas Antam Naik Tipis Rp 2.000 per Gram, Buyback Malah Melonjak Rp 4.000

Sabtu, 13 Juni 2026 • 20:58:01 WIB
Harga Emas Antam Naik Tipis Rp 2.000 per Gram, Buyback Malah Melonjak Rp 4.000
Harga buyback emas Antam naik Rp 4.000 per gram, lebih tinggi dari kenaikan harga jual.

KALIMANTAN UTARA — Kenaikan harga buyback yang lebih agresif dibanding harga jual membuat selisih antara keduanya menyempit. Jika Anda berniat menjual emas batangan ke Antam, perusahaan akan membelinya di harga Rp 2.454.000 per gram. Angka ini naik Rp 4.000 dari posisi sebelumnya, sementara harga jual hanya naik Rp 2.000.

Fenomena ini jarang terjadi. Biasanya, kenaikan harga jual dan buyback bergerak seimbang. Namun kali ini, Antam memberikan sinyal bahwa permintaan terhadap emas bekas atau emas lantakan sedang tinggi.

Daftar Harga Emas Antam Sabtu 13 Juni 2026

Berikut rincian harga emas Antam untuk berbagai ukuran, mulai dari setengah gram hingga satu kilogram:

  • 0,5 gram: Rp 1.405.500
  • 1 gram: Rp 2.711.000
  • 2 gram: Rp 5.362.000
  • 3 gram: Rp 8.018.000
  • 5 gram: Rp 13.330.000
  • 10 gram: Rp 26.605.000
  • 25 gram: Rp 66.387.000
  • 50 gram: Rp 132.695.000
  • 100 gram: Rp 265.312.000
  • 250 gram: Rp 663.015.000
  • 500 gram: Rp 1.325.820.000
  • 1.000 gram: Rp 2.651.600.000

Data ini bersumber dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis Antam, sehingga akurasinya terjamin.

Rekor Tertinggi Masih Jauh, Sentimen Global Berat

Meski naik tipis, harga emas Antam saat ini masih jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa yang tercatat pada 29 Januari 2026, yakni Rp 3.168.000 per gram. Saat itu, harga buyback juga menyentuh level tertinggi di Rp 2.989.000 per gram.

Tekanan terhadap harga emas datang dari pasar global. Mengutip CNBC, harga emas spot tercatat stabil di US$ 4.225,73 per ounce pada Jumat (12/6), tetapi secara mingguan masih melemah sekitar 2,4%. Ini menjadi pelemahan mingguan kedua secara berturut-turut.

Inflasi AS Masih Panas, Suku Bunga Bisa Naik Lagi

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan kekhawatiran inflasi yang berkepanjangan masih menjadi beban utama bagi emas. "Saya pikir inflasi akan bertahan untuk beberapa waktu, bahkan jika harga minyak turun. Kita sudah pernah mendengar cerita seperti ini sebelumnya dan masih ada tingkat skeptisisme tertentu di pasar," kata Grant.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh potensi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan menyebutkan kedua negara bisa menandatangani memorandum penghentian konflik di kawasan Teluk paling cepat Minggu (14/6). Harga minyak langsung turun lebih dari 2% setelah kabar itu beredar, meskipun kantor berita Fars dari Iran membantahnya.

Emas Kalah Pamor Dibanding Obligasi

Secara tradisional, emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun ketika suku bunga tinggi, daya tariknya berkurang karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito.

Berdasarkan alat pemantau CME FedWatch, peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga lagi sebelum akhir tahun kini mencapai 57%. Data ekonomi AS pekan ini memperkuat ekspektasi tersebut: harga produsen Mei naik di atas perkiraan, sementara inflasi konsumen kembali melonjak di atas 4%.

Perhatian pasar kini tertuju pada rapat kebijakan moneter The Fed pada 16-17 Juni — rapat pertama yang dipimpin Ketua baru, Kevin Warsh. Bank investasi UBS memperingatkan, penundaan pemangkasan suku bunga berpotensi menekan harga emas ke kisaran US$ 3.850 hingga US$ 4.000 per ounce dalam jangka pendek.

Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks