KALIMANTAN UTARA — Profesor George Du Toit dari Allergy Centre of Excellence mengungkap musim gugur jadi puncak ledakan tungau debu di kasur, tepat saat penghuni rumah mulai menutup jendela dan menyalakan pemanas. Sebelum suhu ruangan dinaikkan, ada teknik vakum bertekanan dua inci yang bisa menekan paparan alergen pemicu bersin dan gatal. Simak langkahnya berikut ini.
Musim gugur menandai dua hal sekaligus: jendela mulai ditutup dan pemanas ruangan dinyalakan. Dua kebiasaan itu justru menciptakan kondisi ideal bagi tungau debu untuk berkembang biak di dalam kasur.
Du Toit, Co-Founding Director sekaligus Professor of Paediatric Allergy di Allergy Centre of Excellence (ACE), menjelaskan bahwa tungau debu hampir selalu ada di setiap tempat tidur. Baginya, orang dengan alergi tungau debu perlu menekan beban alergen sebaik mungkin, terutama saat pergantian musim.
Populasi tungau debu yang tumbuh sepanjang musim panas mulai mati saat musim gugur tiba. Masalahnya, kematian massal itu melepaskan partikel alergen dalam jumlah besar ke udara dalam ruangan.
"Saat musim gugur datang dan kelembapan berfluktuasi, banyak tungau mati dan melepaskan partikel alergen feses kering dalam jumlah besar ke udara dalam ruangan, tepat ketika orang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah dengan jendela tertutup," kata Du Toit.
Faktor kedua datang dari respons penghuni rumah terhadap udara dingin. Pemanas ruangan mengeringkan udara, tetapi penurunan suhu luar yang cepat ditambah jendela yang tertutup rapat justru menjebak kelembapan sisa musim panas di dalam ruangan. Kondisi ini memicu lonjakan perkembangbiakan tungau.
Lonjakan paling terasa di Inggris serta wilayah utara dan barat tengah Amerika Serikat. Meski begitu, siapa pun yang menutup jendela untuk menahan dingin menghadapi risiko serupa.
Permukaan kasur menyimpan lebih banyak kotoran daripada yang terlihat. Manusia kehilangan sekitar 500 juta serpihan kulit per hari, dan sebagian besar berakhir di tempat tidur bersama keringat, minyak, rambut, serta remah makanan.
Vakum ringan hanya membersihkan permukaan. Debu dan alergen yang mengendap di lapisan dalam kasur tetap tertinggal. Aturan dua inci menggabungkan tekanan kuat ke bawah dengan permukaan kasur yang dipadatkan, sehingga debu dan kulit yang menempel lebih dalam bisa terangkat.
Menghilangkan sumber makanan tungau membuat mereka enggan bersarang di kasur. Cara ini juga membersihkan feses tungau, yang menurut Du Toit jadi penyebab utama reaksi alergi. Saat seseorang batuk dan bersin, pemicunya adalah kotoran tungau, bukan gigitan serangga.
Vakum yang dipakai wajib memiliki filter HEPA tersegel. Tanpa HEPA, tekanan saat memadatkan kasur bisa mendorong mikro-alergen melewati motor ekshaust dan kembali ke kamar tidur.
Vakum kasur khusus tidak wajib, tetapi model genggam lebih mudah menjangkau sudut ranjang. Beberapa produk di pasaran bahkan sudah dilengkapi filter HEPA, teknologi UV-C, dan mekanisme pemukul untuk mengangkat tungau dari permukaan kasur.
Teknik ini menurunkan alergen, menghadirkan permukaan tidur yang lebih bersih, dan memperpanjang usia kasur. Kasur sebaiknya diganti setiap 7-10 tahun, tetapi pembersihan rutin membantu memaksimalkan masa pakainya.
Du Toit menambahkan bahwa kasur menyediakan iklim mikro ideal bagi tungau: makanan melimpah dari serpihan kulit, suhu stabil, dan kelembapan tinggi dari keringat serta pernapasan manusia. Menghirup alergen tungau yang beterbangan bisa memicu rhinitis alergi kronis, konjungtivitis, dan memperburuk gejala asma.
Untuk perlindungan jangka panjang, gunakan pelindung kasur atau encasement yang ditenun rapat dan berzip. Pilih produk yang direkomendasikan lembaga alergi seperti Allergy UK atau Asthma and Allergy Foundation of America. Cuci seprai setiap pekan pada suhu 60 derajat Celsius, jaga kelembapan ruangan di bawah 50 persen dengan dehumidifier dan ventilasi memadai, serta singkirkan karpet dari kamar tidur karena jadi tempat favorit debu menumpuk.