SURABAYA — Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Benny Siga Butarbutar menyatakan media bukan sekadar penonton dalam situasi krisis organisasi. Menurutnya, pemberitaan yang tidak akurat bisa memperbesar persoalan yang sebenarnya masih bisa dikendalikan. Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan Perhumas Goes to Campus bertajuk "Turning Chaos Into Clarity: Seni Berkomunikasi Saat Krisis Melanda Organisasi" di Universitas Dr. Soetomo Surabaya.
Benny menilai krisis komunikasi sering membesar bukan karena masalah awalnya berat, melainkan karena organisasi lambat merespons dan tidak punya juru bicara tunggal. Akibatnya, informasi yang beredar saling bertentangan dan publik kehilangan kepercayaan.
Dalam paparannya, Benny menempatkan media sebagai pihak yang menentukan arah persepsi publik. Ia tidak memandang media hanya sebagai saluran pemberitaan, tetapi sebagai penguji kredibilitas informasi yang dikeluarkan organisasi.
"Media memiliki kekuatan besar untuk membentuk persepsi publik. Dalam situasi krisis, media bisa menjadi penyelamat, tetapi juga bisa memperkeruh keadaan jika informasi yang disampaikan tidak akurat," kata Benny.
Ia mengingatkan bahwa fungsi pengawasan atau watchdog yang melekat pada media membuat setiap pernyataan organisasi akan diuji. Kejujuran, menurut Benny, menjadi dasar yang tidak bisa ditawar dalam komunikasi krisis.
"Jangan sampai informasi yang disampaikan justru membuat persoalan semakin besar. Media memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang akurat dan membangun pemahaman masyarakat," ujarnya.
Benny menekankan dua hal yang kerap diabaikan organisasi saat krisis melanda: penunjukan juru bicara tunggal dan kecepatan respons. Tanpa keduanya, informasi yang keluar ke publik berpotensi berbeda-beda dan menimbulkan kebingungan.
"Dalam menghadapi krisis, harus ada satu juru bicara agar informasi yang keluar tidak berbeda-beda. Respons juga harus cepat, terutama pada satu jam pertama atau the golden hour," ujarnya.
Menurut Benny, golden hour menjadi penentu karena pada rentang waktu itulah publik dan media membentuk gambaran awal tentang sebuah peristiwa. Organisasi yang diam terlalu lama akan kehilangan kendali atas narasi yang beredar.
Benny juga menyoroti posisi strategis Jawa Timur dalam peta pemberitaan nasional. Ia menilai provinsi ini punya kemampuan memengaruhi pusat sekaligus menjadi barometer pemberitaan.
Di sisi lain, ia menyoroti tantangan jurnalisme modern, terutama melemahnya laporan investigasi akibat kecenderungan pemberitaan yang seragam. Menurut Benny, media dan praktisi hubungan masyarakat perlu membangun konstruksi realitas yang objektif dan mengedukasi masyarakat, bukan memanipulasi informasi untuk membentuk persepsi tertentu.
Benny menilai kampus dan institusi pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas jurnalisme dan hubungan masyarakat di Indonesia. Penguatan logika, kapasitas berpikir, dan wawasan mahasiswa menjadi kunci.
"Mahasiswa harus memperkuat kemampuan berpikir dan memperbanyak membaca, baik literatur dalam negeri maupun luar negeri. Dengan begitu, mereka memiliki wawasan yang lebih luas dan bisa selangkah lebih maju," ujarnya.
Selain kompetensi, Benny menegaskan pentingnya keunggulan daya saing bagi individu maupun media. Daya saing itu, menurutnya, menentukan posisi tawar dalam menjalin kerja sama dan menghadapi perubahan industri komunikasi.