KALIMANTAN UTARA — Pabrik baterai raksasa itu mulai produksi tahap awal meski sempat mundur dari jadwal awal yang ditetapkan pada paruh kedua 2025. Juru bicara perusahaan patungan mengonfirmasi kepada The Atlanta Journal-Constitution bahwa pabrik “sedang dalam tahap awal produksi dan akan meningkatkan skala operasi secara bertahap.” Saat beroperasi penuh, kapasitas produksi tahunan ditargetkan mencapai 35 GWh.
Baterai yang diproduksi di Bartow County akan langsung dikirim ke Hyundai Metaplant (HMGMA) di Georgia — pabrik perakitan IONIQ 5 dan IONIQ 9 yang disebut sebagai proyek ekonomi terbesar dalam sejarah negara bagian itu. Sebelum pabrik ini aktif, kebutuhan baterai Metaplant dipasok oleh pabrik SK On lainnya di Commerce, Georgia, yang sudah beroperasi sejak April 2025.
Hyundai juga memiliki pabrik baterai terpisah dengan LG Energy Solution di dekat Savannah, Georgia, yang mulai beroperasi pada April lalu setelah sempat tertunda karena penggerebekan imigrasi yang kontroversial. Total investasi Hyundai di rantai pasok baterai AS kini mencapai lebih dari USD 10 miliar.
Pembukaan pabrik ini terjadi saat Hyundai (tanpa Kia dan Genesis) hanya terpaut 1.331 unit dari Chevrolet dalam perebutan posisi kedua merek EV terlaris di AS. Menurut data Kelley Blue Book, Hyundai menjual 26.936 unit EV murni pada semester pertama 2026, sementara Chevrolet menjual 28.267 unit — turun 40% dari hampir 47.000 unit pada periode yang sama tahun lalu.
IONIQ 5 menjadi tulang punggung penjualan Hyundai. Model tersebut tercatat sebagai EV terlaris ketiga di AS setelah Tesla Model 3 dan Model Y. Sementara IONIQ 9, SUV tiga baris, mencatat kenaikan penjualan 380% tahun ini seiring tingginya harga BBM yang mendorong konsumen beralih ke kendaraan lebih efisien.
Hyundai meneruskan tekanan dengan memangkas harga IONIQ 5 2026 mulai dari USD 35.000 atau sekitar Rp 560 juta — menjadikannya salah satu EV termurah di pasar AS. Pekan lalu, Hyundai meluncurkan promo musim panas dengan bunga 0% APR dan diskon hingga USD 10.000 untuk model listriknya.
Data internal Hyundai menunjukkan tingkat konversi pelanggan baru (conquest rate) untuk IONIQ 5 mencapai 69,8% tahun lalu, sementara IONIQ 9 di angka 64,3%. Artinya, mayoritas pembeli bukan pelanggan setia Hyundai, melainkan pengguna merek lain yang beralih — sinyal kuat bahwa strategi harga dan produk mulai menggerus basis konsumen Chevrolet.
Dengan kapasitas baterai yang kini terjamin dari tiga pabrik berbeda, Hyundai punya ruang napas untuk meningkatkan volume produksi tanpa hambatan pasokan. Chevrolet justru mengalami penurunan drastis karena model-model EV lamanya mulai kehilangan daya tarik di tengah persaingan harga yang kian ketat. Jika tren semester pertama berlanjut, Hyundai berpotensi memimpin pada akhir 2026 — asalkan permintaan IONIQ 9 tetap tinggi dan pasokan baterai dari Bartow County berjalan mulus.