Pemkab Bulungan Bangun Tiga Rumah Adat Dayak, Bulungan, dan Tidung di Kebun Raya Bunda Hayati Tahun 2026

Penulis: Jamal Nasution  •  Senin, 06 Juli 2026 | 17:00:31 WIB
Pemerintah Kabupaten Bulungan mulai pembangunan tiga rumah adat suku Dayak, Bulungan, dan Tidung di Kebun Raya Bunda Hayati tahun 2026.

TANJUNG SELOR — Pemerintah Kabupaten Bulungan tidak hanya menyiapkan wadah organisasi bagi pegiat seni, tetapi juga infrastruktur fisik untuk menjaga identitas budaya daerah. Tiga rumah adat yang akan dibangun mewakili suku asli Bulungan: Suku Dayak, Suku Bulungan, dan Suku Tidung.

Bupati Bulungan Syarwani mengatakan pembangunan rumah adat itu direncanakan rampung pada 2026 di kawasan Kebun Raya Bunda Hayati. “Kami berharap kawasan Kebun Raya Bunda Hayati nantinya menjadi sarana edukasi budaya sekaligus destinasi wisata yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk untuk berbagai kegiatan dengan latar rumah adat sebagai identitas daerah,” ujarnya di Tanjung Selor, Minggu.

Dewan Kesenian Daerah: Wadah Berhimpun Pelaku Seni

Sebelum pembangunan fisik, Pemkab Bulungan lebih dulu mendorong pembentukan Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Bulungan. Menurut Syarwani, dewan ini akan menjadi wadah resmi bagi para pelaku seni budaya untuk mengembangkan dan melestarikan kebudayaan daerah.

“Pemkab tengah mendorong pembentukan Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Bulungan sebagai wadah berhimpunnya para pelaku seni budaya,” kata Syarwani.

Festival Bulungan Hibot 2026: Perputaran Ekonomi Rp65 Juta dari UMKM

Sejumlah festival telah digelar sebagai bentuk komitmen nyata Pemkab Bulungan. Festival Bulungan Hibot 2026 yang berlangsung pada 3-4 Juli di Taman Budaya Tanjung Palas menghadirkan lomba mewarnai, fun race 100 meter tingkat pelajar, lomba fotografi, dan Lomba Muda Berkarya (Madya).

Kegiatan itu tidak hanya menjadi ruang kreativitas generasi muda, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal. Selama dua hari penyelenggaraan, perputaran uang dari pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mencapai Rp65 juta.

“Festival ini bukan hanya sekadar melestarikan seni dan budaya, tetapi juga memberikan panggung dan kesempatan kepada para pelaku UMKM untuk terlibat serta memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan yang dilaksanakan pemerintah daerah,” ungkap Syarwani.

Pendidikan Bahasa dan Budaya Dimulai dari Keluarga

Syarwani mengajak orang tua, guru, dan pegiat seni untuk aktif mengenalkan bahasa serta budaya lokal kepada anak-anak. Menurutnya, pendidikan formal dan lingkungan keluarga menjadi dua jalur utama yang harus berjalan beriringan.

“Harapan kita dengan adanya festival-festival ini anak-anak dan cucu-cucu kita mengetahui bahwa Kabupaten Bulungan memiliki kekayaan seni budaya dan kearifan lokal yang harus terus dijaga, dirawat, dan dilestarikan bersama,” katanya.

Pemkab Bulungan juga telah mendukung berbagai kegiatan kesenian masyarakat lainnya, termasuk Tempayan Fest yang digelar Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (DKOP) Kabupaten Bulungan. Semua langkah ini, menurut Syarwani, adalah komitmen jangka panjang agar kearifan lokal Bulungan tidak punah di tengah arus perubahan zaman.

Reporter: Jamal Nasution
Sumber: kaltara.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top