TARAKAN — Karakteristik Kota Tarakan sebagai daerah kepulauan dengan lalu lintas orang dan barang yang padat dinilai menjadi celah bagi berbagai tindak pidana. Kapolres Tarakan AKBP Erwin Syaputra Manik menyebut potensi ini mencakup kejahatan lintas wilayah hingga perdagangan orang atau human trafficking.
“Tarakan ini memiliki dinamika yang cukup kompleks. Lalu lintas orang dan barang cukup tinggi, dan itu membuka potensi berbagai gangguan keamanan, termasuk tindak pidana seperti human trafficking,” ujar Erwin dalam peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang digelar Polres Tarakan, Rabu (1/7).
Menurut Kapolres, tantangan keamanan saat ini tidak bisa lagi dihadapi hanya oleh aparat kepolisian. Diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak agar potensi gangguan dapat dicegah sejak dini.
“Penanganan keamanan tidak bisa berdiri sendiri. Sinergi dengan pemerintah daerah, TNI, tokoh masyarakat, hingga organisasi kemasyarakatan menjadi kunci dalam menjaga situasi tetap aman,” tegasnya.
Wakil Wali Kota Tarakan Ibnu Saud turut menyoroti kondisi tersebut. Ia menilai mobilitas tinggi di Tarakan tak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka potensi persoalan lintas wilayah yang membutuhkan respons cepat dari aparat.
“Tarakan memiliki mobilitas orang dan barang yang tinggi. Ada potensi persoalan lintas wilayah, termasuk human trafficking. Kondisi ini membutuhkan Polri yang adaptif dan cepat merespons,” ujar Ibnu Saud.
Ia menambahkan, koordinasi antarlembaga di Tarakan selama ini sudah berjalan baik dan perlu terus dipertahankan. Peringatan Hari Bhayangkara ke-80, kata dia, menjadi refleksi bagi Polri untuk meningkatkan profesionalisme dan pelayanan di tengah tantangan yang terus berkembang.