TARAKAN — Bank Indonesia menambah porsi uang tunai yang dibawa dalam Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 di Kalimantan menjadi Rp6 miliar. Nilai ini naik signifikan dibanding ekspedisi tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata hanya di bawah Rp5 miliar.
Kepala Perwakilan BI Kalimantan Selatan sekaligus Koordinator BI Wilayah Kalimantan, Haris Munandar, mengatakan peningkatan nominal tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas layanan penukaran uang rupiah layak edar bagi masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T).
Lima Pulau Disambangi Selama Sepekan
Tim ERB 2026 resmi diberangkatkan dari Dermaga Kodaeral XIII Tarakan pada Selasa. Selama 14 hingga 20 Juli 2026, mereka akan memberikan layanan kas keliling di Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Tanjung Sulaiman, dan Pulau Derawan.
Komandan Kodaeral XIII Tarakan, Laksamana Muda TNI Sumarji Bimoaji, mengerahkan KRI Ajak-653 untuk mendukung distribusi uang. Kapal cepat torpedo ini dipilih karena stabilitasnya yang baik untuk bernavigasi di perairan kepulauan.
80 Persen Uang di Wilayah 3T Perlu Ditukar
Haris mengungkapkan, berdasarkan survei BI, sekitar 80 persen uang yang beredar di sejumlah wilayah 3T sudah waktunya ditukarkan. Meski sebagian besar masih layak edar, BI memilih melakukan penukaran lebih awal demi menjaga kualitas uang yang digunakan masyarakat.
"Sepanjang persediaan masih ada, kami akan melayani seluruh kebutuhan penukaran. Bahkan kami berharap uang yang dibawa dapat tersalurkan seluruhnya karena itu berarti pelayanan kepada masyarakat berjalan optimal," ujar Haris.
Sinergi dengan TNI AL untuk Layanan Rutin
Program ERB sudah berjalan sejak 2012 dengan total sekitar 150 perjalanan ekspedisi. Namun, Haris menilai jumlah itu masih jauh dari cukup mengingat ada sekitar seribu pulau berpenghuni di Indonesia yang membutuhkan layanan kas.
BI terus memperkuat sinergi dengan TNI AL agar penukaran uang di wilayah 3T bisa dilakukan lebih rutin. "Harapannya, penukaran uang di daerah terdepan, terpencil, dan terluar bukan lagi menjadi sesuatu yang spesial, tetapi menjadi layanan yang normal dan mudah diakses masyarakat," kata Haris.
Dalam ekspedisi tahun ini, selain mengganti uang lusuh atau rusak, masyarakat di lima pulau juga dapat menukarkan uang menjadi pecahan kecil yang dibutuhkan untuk transaksi ekonomi sehari-hari.