KALIMANTAN UTARA — Bayu Meghantara, Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta, menyatakan bahwa kondisi struktural permukiman menjadi faktor kritis yang memperparah kebakaran. Menurutnya, rumah yang saling berdempetan, akses jalan sempit, dan material bangunan mudah terbakar membuat api cepat menjalar. “Kondisi lingkungan yang padat, material bangunan yang rentan, serta ketiadaan akses jalan dan sumber airlah yang mengubah percikan api kecil tersebut menjadi kejadian kebakaran seketika yang menghanguskan ratusan rumah,” ujar Bayu saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (9/6/2026).
Lebih dari Sekadar Instalasi Listrik atau Kebocoran Gas
Selama ini, penyebab kebakaran kerap dikaitkan dengan korsleting listrik atau kebocoran gas. Namun, Bayu menilai fokus pada sumber api saja tidak menyelesaikan masalah fundamental. “Akar persoalan terbesar yang membuat Jakarta sering menghadapi ancaman kebakaran besar adalah kondisi lingkungan permukiman dan tata ruang atau kondisi struktural,” ujarnya.
Data Gulkarmat menunjukkan tren fluktuatif jumlah kebakaran di Jakarta. Setelah mencapai puncak pada 2023 dengan lebih dari 2.200 kejadian, angka itu turun menjadi sekitar 1.600 hingga 1.700 kasus pada 2024. Namun, pada 2025, jumlahnya kembali naik ke kisaran 1.800 kejadian. Kawasan padat penduduk tetap menjadi wilayah paling rawan.
Pembenahan Tata Ruang Jadi Kunci Pencegahan ke Depan
Bayu menekankan bahwa upaya pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan perbaikan instalasi listrik atau pengamanan penggunaan gas. Pemerintah daerah harus turun tangan membenahi kondisi lingkungan dan tata ruang permukiman. “Tanpa pembenahan tata ruang, intervensi pada sumber api tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah,” kata Bayu.
Pernyataan ini mengindikasikan perlunya kebijakan yang lebih sistemik, seperti penyediaan akses jalan yang memadai untuk mobil pemadam, sumber air yang mudah dijangkau, serta pengaturan ulang material bangunan di permukiman padat. Tanpa langkah itu, risiko kebakaran besar di Jakarta diperkirakan tetap tinggi.