KALIMANTAN UTARA — Peluncuran buku ‘Polda Aceh Meutuah’ berlangsung meriah dengan dihadiri Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir SIP MPA, anggota Forkopimda, DPR RI, para bupati dan wali kota, pejabat utama Polda Aceh, akademisi, hingga tokoh masyarakat. Acara ini menjadi ajang refleksi perjalanan pengabdian Kapolda Aceh dalam membangun keamanan berlandaskan kearifan lokal.
Mengapa Buku Ini Menjadi Sorotan di Lingkungan Kepolisian Aceh?
Buku ini bukan sekadar catatan harian institusi. Sekda Aceh M. Nasir yang mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyebut karya tersebut sebagai warisan pengetahuan bagi generasi mendatang. “Konsep Polda Aceh Meutuah mencerminkan visi kepolisian yang tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi mitra dan pengayom masyarakat,” ujar Nasir dalam sambutannya.
Sinergi Tiga Pilar: Pemerintah, Polisi, dan Masyarakat
Kehadiran Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris menjadi simbol penguatan hubungan antara pemerintah daerah dan aparat keamanan. Menurutnya, stabilitas keamanan adalah fondasi utama pembangunan daerah. Acara ini sekaligus menjadi ruang diskusi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk bertukar pandangan tentang tantangan keamanan masa depan.
Kapolda Aceh Irjen Pol Drs Marzuki Ali Basyah MM berharap buku ini bisa menjadi sumbangsih nyata bagi pembangunan Aceh. “Semoga buku ini bermanfaat dan menjadi kontribusi bagi Aceh nantinya,” harap putra Aceh tersebut.
Isi Buku: Gagasan Keamanan Adaptif dan Humanis
Buku ‘Polda Aceh Meutuah’ mengangkat perjalanan pengabdian Kapolda Aceh beserta pemikiran strategis tentang pembangunan keamanan yang adaptif, humanis, dan berlandaskan nilai budaya Aceh. Usai peluncuran, sesi diskusi dan tanya jawab membahas isi buku serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, kepolisian, dan masyarakat.
Bagi pemerintah Aceh, kehadiran kepala daerah dalam acara ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah wujud komitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan aparat keamanan demi menciptakan suasana aman, kondusif, dan produktif bagi kesejahteraan masyarakat.