KALIMANTAN UTARA — Sutradara Zeze Takahisa mengisi sesi masterclass Tokyo Talk di Tokyo International Film Festival, membahas perjalanan kariernya dari film pink hingga film pembuka festival, "Sukiyaki". Sesi berlangsung di Tokyo Midtown Hibiya di hadapan penonton yang memenuhi ruangan, dengan fokus pada karya-karya awal dan pandangannya soal film orisinal. Zeze menegaskan bahwa film dengan cerita orisinal punya kekuatan yang khas di tengah industri yang terlalu bergantung pada adaptasi materi sumber.
Zeze Takahisa lahir di Prefektur Oita pada 1960 dan memulai karier di industri film Jepang lewat jalur yang tidak biasa. Pada 1986 ia bergabung dengan perusahaan produksi film pink sebagai asisten sutradara, lalu debut sebagai sutradara tiga tahun kemudian lewat "Extracurricular Activity: Rape". Film itu mengantarnya meraih Pink Grand Prix Award untuk Sutradara Pendatang Baru Terbaik.
Bersama Sano Kazuhiro, Sato Toshiki, dan Sato Hisayasu, Zeze dijuluki sebagai "Four Heavenly Kings of Pink" atau empat raja film pink. Julukan itu muncul dari sebuah teater film pink di Toyama atau Ishikawa, yang menurut Zeze sudah ia lupakan pasti lokasinya.
Film pink pada masa itu diputar di bioskop khusus dengan penonton yang hampir seluruhnya laki-laki. Para sutradara diwajibkan menyisipkan adegan ranjang kira-kira setiap 10 menit. Meski begitu, Zeze menilai periode tersebut justru memberi ruang ekspresi yang luas.
"Saya selalu cukup teguh pada keyakinan saya," kata Zeze dalam sesi tersebut. "Sejak awal 1990-an budaya bergeser dan saya punya lebih banyak kebebasan untuk mengatakan apa yang saya mau. Hal semacam itu penting bagi saya."
Ketertarikannya pada cerita tentang kriminal perempuan muncul dari sudut pandang yang berbeda. "Itu memang berbeda dari perspektif laki-laki," ujarnya. "Motif di balik kejahatan dan sebagainya. Saya merasa itu memikat."
Naskah "Extracurricular Activity: Rape" ditulis sendiri oleh Zeze, mengangkat kisah pelajar perempuan nakal yang berkumpul di Bandara Haneda, Tokyo, dan berhadapan dengan kelompok yakuza. Zeze memberi judul pribadi untuk film itu: "Go to Haneda and You Will See Kids Dressed Like Pirates Ready to Attack".
Saat membahas film pink tahun 1994 berjudul "Genuine Lesbians: Embarrassing Positions", Zeze menyebut judul versinya sendiri, "Fallen Angels in September". Film itu mengisahkan dua perempuan yang terhubung sebagai belahan jiwa, mencerminkan minatnya pada hal-hal mistis yang saat itu sedang digandrungi anak muda.
"Mencari kehidupan masa lalu jadi semacam tren, dan orang mulai mencari koneksi ke dunia yang berbeda," kata Zeze. "Saya pikir mungkin saya bisa membuat film yang berpusat pada hal semacam itu."
Julukan "Four Heavenly Kings" sendiri, menurut Zeze, mengingatkan mereka pada "Nouvelle Vague", label yang memberi nilai kritis dan komersial bagi para anggotanya. "Jadi kami berpikir, daripada bekerja sebagai individu, sebaiknya kami debut dengan nama grup," ujarnya. "Kami memutuskan memakai label 'Four Heavenly Kings' untuk keuntungan kami."
Film-film para "raja" ini juga diputar dalam program retrospektif di festival Rotterdam dan sejumlah negara lain. "Sebenarnya penerimaan di luar negeri datang lebih dulu, lalu semacam diimpor kembali ke Jepang," kata Zeze.
Pada 1997 Zeze membuat debut film mainstream lewat horor remaja "Kokkuri-san", tetapi tetap bergantian menggarap film pink dan mainstream selama satu dekade berikutnya. Puncaknya datang pada 2010 lewat "Heaven's Story", drama balas dendam berdurasi 278 menit yang diputar di seksi Forum Festival Film Berlin dan meraih FIPRESCI Prize.
"Itu berbeda dari yang disebut 'film biasa'," kata Zeze. "Saya sudah menggarap film komersial sampai saat itu, tapi saya sadar harus melakukan sesuatu yang lain. Secara pribadi, saya merasakan urgensi, atau mungkin krisis, bahwa keadaan tidak berjalan baik, dan itulah yang mendorong saya mengambil tantangan ini."
Zeze menyoroti banyaknya pembicaraan bahwa membuat film kini sulit jika tidak diadaptasi dari materi sumber. Baginya, film-film yang benar-benar menarik justru lahir dari cerita orisinal.
Ia sendiri pernah menggarap film komersial berbasis IP, seperti "64" pada 2016, film misteri dua bagian yang diadaptasi dari novel laris. Meski demikian, Zeze menilai industri terlalu terfokus pada pasar materi sumber. "Mereka berpikir kalau materi sumbernya laris, sebaiknya diadaptasi," ujarnya.
"Jadi saya merasa mengejar konsep orisinal dan membuat film orisinal sangat penting saat ini," kata Zeze. "Film-film itu punya kekuatan unik yang memikat."
Pandangan Zeze mencerminkan perdebatan yang lebih luas di industri film global, termasuk di Indonesia, soal keseimbangan antara adaptasi IP populer dan pengembangan cerita orisinal. Sesi masterclass ini menjadi salah satu sorotan program Tokyo Talk di festival yang membuka dengan film "Sukiyaki" arahan Zeze tersebut.